Simple Happiness

“Ibu, aku mau kasih tahu sesuatu”

“Apa sayang?”

“Kata anak-anak, nanti kalau Ibu pulang semuanya mau nangis… “

Dan aku hanya bisa terdiam.

???????????????????????????????
Menyapu halaman sekolah sebelum teman-teman lain datang

Itulah percakapan yang terjadi beberapa hari lalu sepulang sekolah. Tak terasa, aku sudah memasuki bulan kesepuluh masa tugasku di Bawean. Banyak macam rasa yang sudah aku ‘cicipi’ selama disini. Tentu ada suka dan duka. Jenuh mungkin juga pernah hadir, begitu pula lelah, kesal, marah, putus asa, dan semua perasaan yang tak diharapkan. Namun di situlah aku belajar.

Sewaktu aku lelah, aku dikuatkan lagi oleh anak-anak dengan bening senyum yang menanyakan, “Bu, deki belajar baca poleh?” (“Bu, nanti belajar membaca lagi?”)

Sewaktu aku merasa semua yang aku lakukan sia-sia, aku melihat anak-anak yang datang lebih pagi ke sekolah untuk melaksanakan piket. Padahal dulu halaman sekolah selalu dipenuhi sampah dan jadwal piket hanya sebagai penghias kaca jendela sekolah.

Sewaktu aku menahan kesal karena anak-anak terus bercanda di jam pelajaran, sepulang sekolah mereka satu per satu mendatangi aku dan berkata, “Bu, aku minta maaf ya…”. Kemudian mereka keluar kelas sambil menari riang, “Engko mareh.. Engko mareh…!” (“Aku sudah… Aku sudah…!). Mereka belajar mengenai makna kata ‘maaf’. Dan mereka mengucapkannya setulus hati. Aku tersenyum melihat mereka merasa lega setelah meminta maaf sambil menari-nari di lapangan. Di dalam hati, aku juga merasa lega. Kesal ini luruh semuanya. Dan butir bening tertahan di pelupuk mata.

Itu saja. Hal-hal sederhana yang begitu menyentuh sanubariku. Ada saja setiap harinya, tanpa disangka.

Tugasku di Indonesia Mengajar memang belum genap setahun. Tetapi aku yakin setahun ini adalah setahun yang amat luar biasa dalam hidupku. Bukan karena aku merasa melakukan hal yang luar biasa, namun karena banyak hal luar biasa yang aku temui disini. Sungguh pengalaman yang tak bisa dibeli oleh apapun. Aku pernah melihat foto temanku yang kuliah di Belanda. Ia memotret sebuah tulisan yang terpampang di kampusnya: IF I CAN MAKE IT HERE, I CAN MAKE IT ANYWHERE. Aku rasa itu seharusnya juga berlaku bagi para Pengajar Muda.

IF I CAN MAKE IT HERE, I CAN MAKE IT ANYWHERE.

———————————

Catatan:

1) Tulisan ini repost dari blog saya di Indonesia Mengajar yang di-publish pada 31 Maret 2012.

2) Teman yang saya sebutkan di atas pada 2011-2012 belajar di University of Groningen, tempat di mana saya berkuliah sekarang. Life can be so funny yet beautiful in its own way. Now I’m here and I hope I can make it as well. Yes, I have to. 🙂

1865143963390123180513

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. rusydi hikmawan says:

    anak2 di desa emang lebih bermoral, punya hati, berani minta maaf. beda ama anak2 sekolah di kota. kalo di sekolah itu emang diajarin memanggilnya dengan kata “sayang” ya? gimana seh cara mengajar menurut “indonesia mengajar” itu

    Like

    1. Halo Mas Rusydi. Salam kenal.
      Tidak bisa juga digeneralisasi seperti itu. Baik anak desa maupun anak kota, sikap dan perilaku mereka banyak dipengaruhi oleh didikan orang tua dan orang2 di sekitarnya. Justru saya mengapresiasi mereka yg bisa minta maaf terlebih karena sebelumnya hal itu merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi mereka.
      Tidak ada instruksi atau keharusan memanggil dengan kata ‘sayang’. Saya suka memanggil anak2 demikian untuk mengekspresikan perasaan saya saja, karena yg saya lihat banyak orang tua yang keras terhadap anak2nya. Mereka pasti menyayangi anak mereka namun tidak semuanya menunjukkan dengan berkata lembut dan penuh kasih sayang. Jadi anak2 pun cenderung berkata kasar/nada tinggi kepada orang tua jika meminta sesuatu, dll. Dalam pandangan saya, jika kita membiasakan berkata baik dan lembut, anak juga akan terbiasa berkata lembut dan sopan terhadap orang yg lebih tua.

      Like

      1. rusydi hikmawan says:

        selama ini, berteman guru di kota, gak pernah sy denger murid duluan minta maaf atas kesalahannya sendiri. seperti dipengaruhi ego. tapi bisa jadi ada murid di kota bermoral, tapi tidak sy ketahui. he. salam kenal balik

        Like

  2. tinsyam says:

    dear icha.. baca lagi jadi kangen bawean.. semangaaaatttt.. sampe kapan di groningen?

    Like

    1. hehe..iya mbaaak.. insya Allah sampai Agustus tahun depan. Semoga tepat waktu selesainya. 🙂

      Like

  3. fannywa says:

    Kantorku juga support u/ Indonesia Mengajar.. Ternyata Maisya di situ juga yak 🙂

    Like

    1. Wah semoga tetap setia mendukung Indonesia Mengajar. 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s