Mahal Tak (Selalu) Berarti Nyaman

Selama melakukan perjalanan, saya pernah menginap di hotel bintang lima, hotel biasa-biasa saja, backpacker hostel, berkemah di tengah hutan, berkemah di pinggir pantai, sampai tidur di masjid. Menginap di hotel berbintang tentunya karena ada sponsor, baik saat kuliah maupun bekerja. Dari pengalaman itu, saya merasakan bahwa harga tak selalu mencerminkan kenyamanan. Bisa jadi definisi ‘nyaman’ juga memang berbeda bagi setiap orang. Bukankah begitu?

Tempat yang Nyaman Buat Saya Adalah…

…tempat dimana saya betah tinggal berlama-lama di dalamnya. Tempat yang membuat saya ingin kembali lagi kesana. Hal itu juga berlaku untuk tempat menginap, entah itu namanya hotel, hostel, guest house, dan lain sebagainya. Tentu sangat menyenangkan jika kita disambut oleh keramahan di hotel-hotel mahal. Namun keramahan itu menjadi wajar karena memang berbanding lurus dengan harga yang kita bayar. Namun ketika menginap di sebuah guest house kecil dengan harga yang sangat terjangkau dan kamar yang tak terlalu banyak, rasanya berbeda. Rasanya seperti disambut keluarga sendiri yang sudah lama tak jumpa.

Baru-baru ini saya menginap di sebuah hotel ternama di Singapura. Itu lhoo..hotelyang punya tiga menara yang selalu menjadi latar jika para wisatawan berfoto dari Esplanade. Hotel yang mengklaim dirinya sebagai hotel paling spektakuler di Singapura. Punya sky park, kemudian terintegrasi dengan convention center, casino, dan shopping mall.

But really…that is not the typical hotel that I like.

IMG_20130406_165540
Hotel with train station atmosphere!!

“Yeah..this hotel is more like a train station…” kata salah seorang kolega New Zealand saya saat kami berbincang sambil sarapan di restoran hotel. Saya pikir saya yang kampungan, tetapi ia yang sudah mengunjungi banyak negara dan menginap di banyak hotel pun berpikiran sama. Dari restoran yang terletak di lantai satu itu, kami melihat orang ramai hilir mudik. Suasana sibuk. Orang datang dan pergi. Tak ada ruang yang menyediakan sofa-sofa dimana orang duduk bersama dan berbincang. Bahkan kolega saya yang lain mengatakan suasana di hotel ini seperti di bandara.

Baiklah…hotel ini memiliki tiga menara. Kamar saya terletak di Menara 3 dan di lobinya tidak ada tempat duduk sama sekali. Lobi hotel ini bentuknya memang seperti jalan raya saja. Lurus. Jalan terus dari ujung ke ujung sampai gempor. Barulah di lobi Menara 1 & 2 ada beberapa tempat duduk yang berbentuk memanjang. Juga menurut saya kelihatannya bukan didesain untuk mempertemukan orang-orang yang ingin duduk sambil mengobrol. Alasannya sih sederhana, di seberang hotel tersebut ada shopping mal dengan banyak kafe dan restoran. Jika tamu hotel ini duduk-duduk dan mengobrol ya harus kesana. Harus mengeluarkan uang. Oh my…mau duduk saja mahal.

Tetapi…berjalan dari hotel ke convention center dan shopping mal adalah sebuah pekerjaan rumah. Jaraknya jauuuuhhh.. Harus naik-turun tangga pula. Tidak praktis. Dan di convention center sebesar itu saya tidak menemukan satupun mushala. Mungkin saya salah, semoga sebenarnya ada. Namun ketika saya bertanya kepada petugas setempat, mereka menyatakan tidak ada. Maka saya harus berjalan kembali ke hotel untuk solat. Dengan kecepatan jalan yang cepat ala saya, mungkin perlu waktu setidaknya 30 menit untuk berjalan bolak-balik dari hotel ke convention center.

Jika Semua Dinilai dengan Uang…

Terlepas dari masalah akses yang menyusahkan, saya tidak komplain tentang pelayanan di hotel ini sampai ada satu kejadian. Hari ini, sebelum menghadiri meeting terakhir, ada jeda selama dua jam. Saya diajak dua teman saya ke Mustafa (semacam department store) di kawasan Little India. Biasanya banyak turis yang mencari oleh-oleh makanan dan cokelat disana, ada pula berbagai souvenir dengan harga yang cukup bersaing jika dibandingkan dengan di tempat lain.

Sepulang dari Mustafa, kami bergegas ke Concierge untuk menitipkan barang belanjaan. Kenapa dititipkan di concierge? Pertama, kami sudah check out. Kedua, kami harus segera tiba di ruang meeting di convention center dan tidak mungkin membawa-bawa belanjaan. Melihat kantung bertuliskan ‘Mustafa’, si petugas concierge itu langsung memandang kami sebelah mata seolah kami rakyat jelata di pinggir jalan yang tak pantas masuk hotel paling spektakuler itu. Dari caranya berbicara juga seolah meremehkan. Saya diam saja karena malas berdebat, kami harus segera pergi. Kalau penasaran yang mana orangnya, cari saja pria usia 50-an di hotel bernama Hanafi.

Musik, Udara, dan Teman Baru

IMG_20130406_221307
Ruang bersama. Browsing bisa..mengobrol di meja bersama juga bisa. 😀

Saya duduk di ruang bersama di sebuah backpacker hostel di daerah Lavender malam ini. Ruang terbuka mengizinkan saya menghirup udara segar. Musik mengalun menemani orang-orang yang ada di ruangan. Kami saling berkenalan dan mengobrol. Itu saja yang saya butuhkan. Ruang yang menjadikan orang-orangnya saling menyapa dan peduli. Ruang yang tidak angkuh dan tidak menilai semua hal dari materi semata. Ini yang saya sebut nyaman.

1865143963390123180513

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Ternyata oh ternyata, pepatah jawa”Ono rego ono rupo” terpatahkan 🙂

    Like

    1. Yah kalau penampakannya sih memang bagusan yang mahal ini, hehe.. Tapi masalah rasa nyaman itu kan yang tak terbeli. 😉

      Like

  2. Benar kalo dibilang: “Hotel with train station atmosphere!!”
    Kalo hotel gak ada ruangan buat lesehan ya gak nyaman. Gimana kalo ada teman yang tinggal di daerah tersebut pengen kopdar. Mungkin diarahkan agar ngobrol-ngobrolnya di dalam cafe, bukan di lobby.

    Like

    1. Memang sepertinya begitu, Mas Iwan. Hehe.. Makanya mereka bikin terintegrasi sama convention center dan shopping mal ya. Cuma ya jauh juga kalau jalan..enakan hotel yang biasa aja. Meeting room, kafe, dan tempat buat duduk-duduk ada di situ semua. Hehe..

      Like

  3. tinsyam says:

    MSB hotel emang dikondisikan kaya gitu.. paling enak emang hostel kali ya, ketemu semua dan ramahramah..

    Like

    1. Hehe.. Ada kelebihan dan kekurangannya sih yaa.. Tapi kalau disuruh bayar sendiri sih ya ogah nginep di hotel2 makal. :p Banyak tempat nginap yang lebih terjangkau tapi tetep nyaman. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s