Other Stories

Bapak di Atas Jembatan

Hujan, banjir, dan macet. Cukuplah membuat lelah dan getir. Sampai saya melihat senyuman bapak itu di jembatan penyeberangan antara Halte Busway Setiabudi dan Duku Atas, Jalan Sudirman, Jakarta. Saya tak mengenalnya. Yang saya tahu, ia berjualan di jembatan itu setiap hari. Di sampingnya setia sebuah koper berisi berbagai macam kaus kaki dan masker. Iya, masker. Kebutuhan warga kota metropolitan dengan polusi yang semakin menjadi dari waktu ke waktu.

Selama sebulan saya tinggal di kost, saya selalu melewati jembatan itu setiap pulang kantor. Terkadang saya terlalu lelah untuk sekadar melihat sekitar, termasuk siapa saja yang ada di atas jembatan itu. Ditambah lagi tak ada penerangan, cahaya seadanya dari lampu-lampu gedung atau jalan.

Hujan, banjir, dan macet. Cukuplah membuat lelah dan getir. Sampai saya melihat senyuman bapak itu di jembatan penyeberangan antara Halte Busway Setiabudi dan Duku Atas, Jalan Sudirman, Jakarta. Saya kemudian tersadar bahwa ia selalu tersenyum kepada semua orang yang melewatinya. Juga malam itu. Sementara gerimis masih tersisa, ia berdiri di samping kopernya, tak lupa senyum menghiasi wajahnya. Saya balas tersenyum sambil menganggukkan kepala saya demi menghormatinya.

Terima kasih, Pak. Senyum dan sapa Bapak menyadarkan saya bahwa seberat apapun hari kita, kita masih bisa memberi untuk orang lain. Sekalipun itu hanya sebuah senyuman. 🙂

Yuk senyum! :)
Yuk senyum! 🙂

A17D533814F5A072D998E94BEDF101B5

Advertisements

8 thoughts on “Bapak di Atas Jembatan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s