Rectoverso (Book)

Sebenarnya, buku ini pertama kali terbit kalau tidak salah tahun 2009. Namun, karena baru-baru ini dibuat filmnya, mungkin ada teman-teman yang belum membaca bukunya dan penasaran dengan isi ceritanya.

Rectoverso: dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. 11 cerita dan 11 lagu. Dewi Lestari (Dee) menyuguhkan sesuatu baru dalam karyanya Rectoverso. Adapun kali ini saya akan lebih membahas bukunya.

Pertama, buku ini tidak terlalu tebal, sehingga bagi Anda yang tidak terlalu suka membaca, Anda mungkin bisa menikmati buku ini. Ceritanya juga padat, tidak bertele-tele, tapi tetap penuh makna. Ditambah dengan ilustrasi berupa gambar atau foto-foto yang turut mendukung isi cerita. Setelah sebelumnya membaca karya Dee yang berjudul “Filosofi Kopi”, kali ini saya kembali dibuat jatuh hati pada tulisannya. Tetap sederhana namun mendalam. Dan bisa dibilang, kali ini ceritanya lebih detail dan mengeksplorasi sisi-sisi yang bersifat pribadi.

Rangkaian cerita dalam buku ini dibuka dengan cerpen berjudul “Curhat buat Sahabat”, sebuah awalan yang membuat saya semakin ingin tahu cerita apa lagi yang akan disajikan Dee berikutnya. Untuk beberapa alasan, saya sangat menyukai cerita ini, bahkan bisa dibilang ini adalah cerita yang paling saya sukai di antara semua yang ada dalam Rectoverso. Sebuah kejujuran yang datang dari seorang sahabat. Rangkaian kata yang indah dan dialog yang apa adanya. Romantis namun tidak gombal. Saya salut kepada Dee yang pandai memilih kata-kata dan membuat kejadian biasa menjadi terasa istimewa. Saya yakin, mungkin banyak di antara kita pernah mengalami kejadian yang hampir serupa dengan cerita ini, namun tidak semua orang dapat memilih kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya.

Cerita lainnya di antaranya adalah Malaikat Juga Tahu, yang lebih kita kenal lagunya. Jujur saja, dari dulu berkali-kali saya berusaha memahami lirik lagu ini, namun tidak terlalu paham apa maksudnya. Setelah membaca cerpennya, saya bisa lebih utuh memahaminya. Walaupun kalau melihat liriknya lagi, saya jadi bingung lagi, hehe… Bingung akan siapa “aku” dan “kamu” dalam lirik tersebut.

Cerita-cerita lainnya masih bergaya khas Dee. Cerita yang mungkin sebenarnya banyak terjadi di kehidupan sehari-hari, namun Dee bisa melihatnya dari sisi yang lain, sisi yang baru, sehingga saya tetap menganggap kejadian biasa itu didukung oleh ide menulis yang luar biasa. Dalam cerpen yang berjudul “Selamat Ulang Tahun”, Dee hanya menulis cerita sepanjang tiga halaman. Itu pun halaman ketiganya hanya sebuah kalimat “Selamat Ulang Tahun”. Namun dari cerita yang singkat itu, saya dapat benar-benar mengerti dan ikut merasakan perasaan sang tokoh, harapannya, dan mungkin sedikit terselip rasa kecewanya. Juga dalam cerpen berjudul “Tidur” yang bercerita tentang seorang wanita karier yang meninggalkan suami dan dua anaknya untuk bekerja di luar negeri. Ia hidup di antara penyesalan akan ambisi dan juga kerinduan akan keluarga. Sungguh cerita yang menyentuh.

Jika saya memberikan cukup banyak bintang bagi buku ini, tidak berarti buku ini dapat dibandingkan dengan buku-buku lain yang pernah saya beri 4-5 bintang. Setiap penulis memiliki keistimewaan masing-masing dan karyanya memukau dengan caranya masing-masing. Bagi saya, satu kata yang bisa menggambarkan karya Dee: UNIK! Sedangkan Shanty (penyanyi) memberi testimoni dalam buku ini, yaitu “satu kata: JUARA!”

Bagaimana menurut Anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s