[SumateraTrip-4] Mencari Puskesmas Silungkang

Siang berganti sore. Langit cerah berganti mendung. Saya diantarkan Dewi ke pool minibus Jasa Malindo tak jauh dari Simpang Aru, Padang. Waktu dua hari rasanya terlewat begitu saja. Dalam waktu singkat itu, saya merasakan kehangatan keluarga meskipun saya jauh dari rumah. Dewi, Nisa, Deby, dan Bram merupakan tuan rumah yang sangat baik. Mereka menjamu saya di sela-sela kesibukan mereka, atau sekadar mengobrol dan tertawa bersama.

Hujan turun rintik-rintik ketika saya tiba di pool minibus. Setelah memastikan tujuan angkutan tersebut adalah Sawahlunto, saya bergegas menaruh backpack di bagasi belakang dan naik ke minibus. Sebelumnya saya sudah berpamitan kepada Dewi, menjabat tangannya erat seolah tak ingin berpisah. Dari dalam minibus, saya masih melihat Dewi berdiri di luar dalam gerimis hujan. Saat itu ada sesuatu yang tertahan. Rasa sesak menahan butiran air yang jatuh dari ujung kelopak mata. Ah, mengapa pula saya harus menahannya? Maka air mata sempurna jatuh di pipi. Jatuh bersama jatuhnya air hujan dari langit.

Ongkos dari Padang ke Swahlunto adalah Rp15.000. Sang kondektur menarik ongkos dari para penumpang. Di luar, hujan semakin deras saja. Minibus melaju dengan kecepatan agak lambat karena air luapan dari sungai tumpah ke jalan. Saya melongok ke jendela, cukup dalam juga. Saya berdoa semoga perjalanan ini lancar dan saya bisa selamat sampai tujuan saya sore itu: Puskesmas Silungkang, Sawahlunto.

Ada apa gerangan di puskesmas itu? Sakitkah saya sehingga harus berobat kesana? Bukan, bukan itu. Di puskesmas tersebut saya akan bertemu dengan teman SMA saya Nisa atau akrab dipanggil Chaul. Semenjak ia melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran Unand (2005), Padang, kami belum pernah bertemu lagi. Rumah Nisa di Ciputat, sedangkan saya di Bekasi, dan kami akan bertemu lagi di desa kecil bernama Silungkang di Sawahlunto. Epic!

Perjalanan Padang – Sawahlunto memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan melewati Solok. Jalanan berliku menembus pegunungan, persis di Puncak, namun minus kebun teh. Saat melewati Solok, saya melihat papan penunjuk arah menuju Danau di Atas dan Danau di Bawah. Ya ampun! Saya sampai lupa memasukkan kedua danau ini sebagai destinasi dalam rencana perjalanan saya. Padahal sudah beberapa kali saya membaca artikel dan catatan perjalanan orang lain di beberapa majalah. Hmm…baiklah, mungkin dalam perjalanan selanjutnya.

Atas: Jalan menuju Puskesmas
Bawah: Puskesmas Silungkang

Menjelang maghrib, minibus berhenti dan sang kondektur memberitahu saya bahwa saya sudah sampai di Silungkang. “Uni mau ke Puskesmas kan? Nyeberang lalu jalan lurus saja,” katanya. Saya turun dan berterima kasih. Minibus itu pun melanjutkan perjalanan.

Saya langsung menelepon Chaul. “Ul, gue lagi jalan kaki ke Puskesmas nih.” Saat saya memandang sekitar, saya baru sadar bahwa orang-orang yang sedang berkendara motor memperlambat lajunya demi melihat seorang wanita ‘asing’ berjalan dengan backpack besar di punggungnya. Mungkin pemandangan aneh. Saya tersenyum sok akrab.

Dari kejauhan saya melihat seorang wanita anggun dengan jilbab krem dan jas dokter berjalan dari arah Puskesmas. Tangan saya melambai. “Chaul!” panggil saya riang. Serta merta kami berpelukan setelah tujuh tahun tak bertemu. “Heh, gue kirain bukan elo. Ih, bawa tas segede gini, gue kebayangnya lo bawa koper, hehe…” kata Chaul. Saya tertawa. “Nggak kebayang ribetnya kalau bawa koper, Ul.”

Malam itu, saya bermalam di puskesmas karena Chaul sedang ada jadwal jaga. Chaul yang baik hati sudah memesankan makanan untuk kami santap bersama saat makan malam. Turut bergabung bersama kami salah seorang perawat yang merupakan rekan Chaul, Nely namanya. Saya yang kelaparan makan dengan semangat empat lima. Duh…makanan pedas memang selalu berhasil menaklukkan lidah saya.

Ada salah satu menu balado malam itu, bentuknya bulat, tipis, dan lembek. Saya pikir itu jamur. Saya makan dengan lahap sampai Chaul bertanya, “Lo suka jengkol ya?” Hyaaaa..itu jengkol, pemirsa! Pantesan enak banget. Hahaha… Sudah terlanjur, lanjutkan saja!

Selamat malam, Silungkang!

Pengeluaran Hari Kedua:

Sarapan Rp7000

Tiket museum (2 orang) Rp4000

Bus Jasa Malindo Rp15.000

TOTAL Rp26.000

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. coretcoretangw says:

    ah enak ternyata ya 😀

    Like

    1. Apakah akan menjadi menu makan malam kita? 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s