[SumateraTrip-1] Menginjakkan Kaki di Sumbar

Pesawat mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Padang, pukul 10.15. Bandara itu terbilang sepi. Sesaat setelah mengambil backpack dari conveyor belt, saya bergegas keluar menuju tempat tunggu bus Tranex. Dari bandara tersebut, moda transportasi umum yang ada ialah taksi dan bus. Ada dua bus yang beroperasi, yaitu Tranex dan Damri. Keduanya menuju pusat kota Padang tetapi berbeda trayek.

Waktu menunjukkan hampir pukul 11 ketika akhirnya bus yang saya tunggu tiba. Namun karena penumpang hanya sedikit, kondektur mengatakan bahwa bus akan menunggu pesawat berikutnya yang mendarat. “Pukul berapa, Uda?” tanya saya. “Pukul 12.” Jawabnya. Jreng jreng! Itu adalah pesawat dari Jakarta yang berangkat sekitar pukul 10. Jadi saya berangkat dengan penerbangan pukul 8 hanya untuk menunggu naik bus bersama penumpang pesawat pukul 10? Saya tertawa kecil untuk menghibur diri. Pada kenyatannya, bus baru beranjak meninggalkan bandara pukul 12.45. Saya sudah tidak bisa tertawa lagi.

Sebelum tiba di Padang, saya sempat mencari-cari pilihan akomodasi melalui berbagai situs. Ternyata tak terlalu banyak pilihan akomodasi terjangkau (budget accomodation) yang sudah terdaftar di situs-situs penyedia informasi akomodasi (untuk akomodasi di Indonesia, di antaranya ada rajakamar.com dan pegipegi.com. Pilihan akomodasi lainnya bisa dibaca di SINI). Kebanyakan yang saya temukan adalah hotel-hotel besar yang tidak masuk anggaran saya. Beruntung kemudian saya mendapat tawaran untuk menginap di rumah teman saya, Gatot. Gatot yang asli Bengkulu itu memiliki rumah kontrakan di Padang karena adik-adiknya masih bersekolah dan kuliah disana. Tawaran itu saya terima dengan senang hati. Gatot sendiri saat itu sedang berada di Jakarta, hehe..

Dengan membayar ongkos Rp18.000, saya turun di Simpang Haru. Dewi, salah satu adik Gatot, akan menjemput saya disana. Selama menunggu Dewi saya bercakap-cakap dengan tukang ojek yang mangkal di tempat tersebut. Mereka penasaran melihat saya membawa ransel yang bagi mereka berukuran tak wajar. Mereka berpesan kepada saya untuk waspada dan berhati-hati selama di Padang. “Yah di Jakarta atau di Padang sama, ada saja orang yang berniat tidak baik. Akhir-akhir ini disini sedang banyak pencopetan dan penjambretan,” kata salah satu dari mereka. Saya berterima kasih dan pamit saat Dewi akhirnya datang.

Kami mengendarai sepeda motor menuju ke rumahnya. Rasa-rasanya saya sudah akrab dengan udara panas di Padang. Ah, ya! Rasanya hampir sama seperti di Jogja, hehe.. Namun memasuki rumah Dewi yang sejuk seolah menjadi penawar udara panas di luar.

Journey begins!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s