Supir Bus dan Harga Seorang Polisi

“Tiada hari tanpa perbaikan dan berbuat kebaikan”

Sore itu (April 2011) seperti sore-sore biasanya. Sepulang kantor saya menunggu bus di depan Hotel Kartika Chandra (Jalan Gatot Subroto) untuk pulang ke Bekasi. Setelah beberapa bus selalu penuh, berjodohlah saya dengan Patas 50 (P50) jurusan Tanah Abang – Bekasi. Brak bruk! Bukan sekali ini supir bus menyetir dengan barbar dan tidak sabaran. Ngebut dan mengerem mendadak, salip kanan kiri, ‘menginjak’ marka jalan, dan menyetir di bahu jalan tol sudah menjadi kebiasaan dan bahkan ciri khas kebanyakan supir bus. Semuanya jelas membahayakan penumpang bus dan pengendara lainnya. Sedangkan sore ini, pelanggaran pertama yang dilakukan oleh supir bus terhitung semenjak saya berada di bus itu adalah nyelonong ke jalur busway.

Lagi-lagi, hal itu bukan kali pertama saya alami. Namun seperti kita tahu, di Indonesia ini kalau ada orang ditilang, itu bukan hanya dikarenakan ia melanggar peraturan lalu lintas, namun ia juga sedang apes. Pasalnya, banyak sekali pelanggaran terjadi setiap harinya – bahkan terkadang di depan polisi – namun hanya didiamkan saja tanpa tindakan apapun. Jadi saya simpulkan, adanya penilangan itu sifatnya random dan dipengaruhi oleh mood polisi.

Kembali ke kejadian sore itu, supir bus P50 tadi sedang apes. Tak lama setelah ia masuk jalur busway, seorang polisi datang menghampiri. Saat itu, sebenarnya saya sedang mengutuki tindakan si supir yang masuk jalur busway tiba-tiba dan membuat penumpang yang berdiri menjadi oleng dan sebagian hampir jatuh. Sebagai catatan, terdapat pemisah antara jalur biasa dan jalur busway yang tingginya bisa mencapai sekitar 10 cm (yang jelas cukup membuat pengendara motor bersusah payah jika ingin nyerobot ke jalur busway).

Atas pelanggaran supir bus tadi, polisi tersebut mengisyaratkan agar sang supir membawa busnya minggir. Oke, ini alamat ditilang. I think I get on the wrong bus. Hufff… Dan mulai terdengar suara para penumpang yang mengeluh.

Ternyata, supir bus ngeyel. Ia sama sekali tak berniat meminggirkan busnya. Saat itu, bus memang sudah berada beberapa meter dari Gerbang Tol Semanggi 2. Supir bus lurus saja dengan pedenya. Sementara di belakang, polisi tadi berusaha mengejar. Berhubung setuasi sedang merayap, mudah sekali bagi polisi itu untuk kembali menghadang bus. Polisi berdiri di samping kaca supir, lalu sang supir memohon maaf, namun tak juga minggir. Saya saat itu berkata, “Pak, berhenti saja dong!”Namun bus maju lagi ke arah gardu tol, dan polisi pun semakin murka. Sekarang ia benar-benar menghadang di depan bus. Jika bus maju, polisi tertabrak. Tentu itu bukan skenario yang diharapkan.

Akhirnya bus berhenti, polisi semakin mendekat. Riuhlah suasana di dalam bus menyoraki (dengan nada mengeluh) situasi. Saya menyoraki si supir yang ngeyel, namun setelah saya pikir-pikir mungkin penumpang lainnya menyoraki polisi. Entahlah. Saat itu saya geram dengan tindakan supir yang sudah salah malah ngeyel. Ternyata supir tadi punya excuse, ia berkata, “Maaf Pak..maaf..ini nggak bisa direm mobilnya… Lagian yang lain juga melanggar, bukan saya saja.”

Polisi tadi tampak sangat emosi, ia kemudian naik ke dalam bus. Suasana makin mencekam. Banyak yang beristighfar, termasuk saya. Saya hanya khawatir terjadi perkelahian atau kekerasan. Polisi menuju ke arah supir, mematikan mesin, mencabut kunci, lalu memaksa supir turun. Sang supir turun dan meminta kondektur menginjak rem karena bus itu tidak bisa direm tangan (itu yang saya tangkap).

Di luar, di depan bus, sang supir memohon maaf dengan sangat sampai seperti menyembah. Iya, menyembah! Lalu kepala sang supir hilang dari pandangan saya, saya pikir dia bersujud di hadapan polisi, eh ternyata dia disuruh push up. Beberapa penumpang ikut turun untuk menahan amarah polisi tersebut, dari bapak-bapak, mbak-mbak, sampai nenek-nenek. Tidak ada pengaruh apa-apa. Lalu muncul seorang ibu yang berusia 40-an yang mengaku sebagai wartawan. Nampaknya ia sedikit menggertak polisi dengan memberitahukan profesinya.

Yang menjadi catatan saya, apakah ada peraturan bahwa pelanggar peraturan lalu lintas harus melakukan push up? Bahkan menurut saksi mata dan pengakuan supir sendiri, saat supir sedang push up, polisi menginjak-injak tangan sang supir. Selain itu, polisi itu bertindak kasar dengan membentak, lalu menyeret dan menarik kerah baju sang supir. Hal itu dilakukan setelah sang supir meminta maaf dan push up. Apakah itu yang namanya pengayom masyarakat? Saya rasa ini sudah di luar batas.

Saya tidak habis pikir, kalau ada pengendara yang melanggar, bukankah seharusnya ditindak sesuai prosedur? Oke, untuk kasus ini ada bonus cobaan ekstra yang menguji kesabaran polisi, yaitu supir yang ngeyel dan berusaha kabur. Namun dengan perilaku polisi yang seperti itu, dimana kehormatannya sebagai seorang polisi? Ia sama-sama melakukan tindakan barbar.

Kejadian tadi menimbulkan kemacetan karena menyebabkan salah satu gardu tol ditutup. Supir salah, polisi juga bertindak sangat tidak simpatik. Saya catat nama polisi itu: Nurjatmiko. Saya masih ingat wajahnya, tatapan matanya saat marah, dan gaya bossy-nya. Benar-benar memuakkan. Kejadian tadi seperti perpeloncoan yang sering kita lihat di video-video. Primitif.

Mau tahu akhir cerita ini? Bus akhirnya dibiarkan lewat setelah agak lama menunggu amarah Nurjatmiko mereda. Bus dibiarkan lewat tanpa sang supir harus menyerahkan SIM maupun surat lainnya. Jadi sebenarnya tujuan tilang itu apa? Untuk menegakkan peraturan dan meningkatkan kedisiplinan…atau sekadar untuk menumpahkan amarah polisi? Benar-benar lucu. Padahal awalnya saya mengira (dan berharap) supir itu akan ditilang sebagaimana mestinya supaya menjadi pelajaran di masa mendatang. Baiklah..kejadian perpeloncoan tadi mungkin juga sebuah pelajaran pahit namun amat berharga baginya.

Saat bus kembali berjalan, beberapa ibu-ibu masih ngedumel dan menasihati supir berkaitan dengan kejadian yang baru saja dialami. Sebagian penumpang lainnya menyuruh ibu-ibu tadi diam supaya sang supir bisa fokus mengemudi. Pada kenyataannya, supir bus tetaplah supir bus. Setelah ditilang pun gaya mengemudinya masih sama: ngebut dan mengerem mendadak, salip kanan kiri, ‘menginjak’ marka jalan, dan menyetir di bahu jalan tol. Ini bagaikan sebuah identitas yang melekat. Saya menghela napas.

Kemudian ada seorang bapak yang nyeletuk, “Kenapa nggak dikasih duit aja tuh polisinya?”

“Udah Pak, tadi saya selipin uang 10.000 di sepatunya,” jawab sang supir.

Penumpang lain membalas, “Yaaah..10.000 sih. Coba tadi kasihnya 50.000…pasti nggak lama deh nunggunya.” Penumpang lain menyambutnya dengan tawa.

Dengarkan itu, wahai polisi… Nilaimu di mata masyarakat hanya seharga lima puluh ribu rupiah.

Pikiran saya melayang ke sebuah baliho besar di depan gedung Polda bertuliskan: “Tiada hari tanpa perbaikan dan berbuat kebaikan”

Ah, hidup ini penuh ironi, bukan?

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. ayanapunya says:

    di rumah sebelah juga lagi rame bahas masalah polisi, nih. terkait dengan ucapan wakapolri itu 🙂

    Like

    1. Wah itu aku juga dapat tautan beritanya di FB. Sayang sekali ya pernyataan tersebut keluar bahkan dari seorang pimpinan. Kalau aku amati sih korupsi itu bukan karena gaji kecil, toh orang yang gajinya besar ada aja yang korupsi. Kalau faktor internal ya diri kita harus merasa cukup dan bersyukur. Kalau kurang, berikhtiarlah dengan jalan yang halal. Faktor eksternalnya adalah sistem. Sejauh mana sistem itu bisa memberikan insentif bagi yang jujur dan efek jera bagi yang korupsi. IMHO. 🙂

      Like

  2. penutup yang bagus mbak!! 50 ribu, harga seorang polisi di mata masyarakat…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s