Menunda Mimpi?

*foto: Chendra

Katanya menunda-nunda itu tidak baik, termasuk menunda mimpi. Adalah biasa bahwa masa muda dipenuhi begitu banyak mimpi indah, menantang, dan luar biasa. Mimpi-mimpi yang…seakan tak mau ditunda lagi! Akan tetapi, mimpi itu terkadang terbentur dengan kenyataan bahwa ada hal-hal lain yang terlihat lebih wajar, realistis, dan menjanjikan untuk keberlangsungan hidup kita dalam jangka panjang. Misalnya saja bekerja dan mengumpulkan uang. Ada orang yang menunda mimpinya dan memilih mengumpulkan uang terlebih dahulu. Harapannya, jika uang sudah terkumpul, suatu saat ia akan mewujudkan mimpi yang sempat tertunda.

Cerita semacam itu juga saya temukan dalam buku Alchemist karya Paulo Coelho. Anda boleh bilang saya terlambat, tapi saya senang akhirnya saya kesampaian juga membaca buku ini. Buku yang…sederhana dalam kerumitannya. Cerita yang juga indah dan romantis tanpa harus gombal dan kekanak-kanakan. Dan terutama, cerita dalam buku ini membuat saya bercermin kepada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tentang percaya pada mimpi dan berusaha mewujudkannya.

Saat si anak gembala meninggalkan Spanyol untuk menyeberang ke Afrika, ia meninggalkan banyak hal yang selama ini menjadi kesehariannya. Ia meninggalkan domba-domba ternaknya. Ia tak lagi menemani domba-dombanya mencari makanan dan air. Ia tak lagi mencukur bulu dombanya untuk dijual. Ia meninggalkan rutinitas menggembala yang sudah sangat ia kenal dan kuasai. Ia pergi ke Afrika untuk sesuatu yang belum pasti. Tapi di Afrika lah ia ingin membuktikan mimpinya. Ia memang sudah lama ingin melihat dan menginjakkan kaki di tempat-tempat yang baru.

Di tanah Afrika, si anak bertemu dengan penjual kristal yang tokonya seakan hidup enggan mati tak mau. Anak gembala kemudian bekerja kepadanya dan mengusulkan pemilik toko melakukan beberapa perubahan agar tokonya lebih laris. Sang pemilik toko itu awalnya merasa tak perlu membuat perubahan apa-apa dari tokonya. Ia takut akan perubahan. Ia sudah merasa aman di titik tempat ia berada. Rupanya dari kesehariannya yang kelihatan monoton itu, sang pemilik toko punya mimpi yang terpendam. Ia ingin menunaikan rukun agamanya yang kelima, yaitu ibadah haji. Sewaktu muda, mimpi itu ia tunda. Ia mengumpulkan uang terlebih dahulu dengan menjual kristal. Namun saat tokonya sudah berkembang, ia terlalu takut untuk meninggalkan tokonya. Ia tak bisa memercayai orang lain untuk menjaga tokonya selama ia pergi. Dan kini, pergi ke tanah suci masih menjadi mimpinya. Mimpi yang takut untuk ia wujudkan.

Di masa-masa transisi seperti sekarang, dimana saya akan segera meninggalkan keseharian selama hampir setahun ini, saya dihadapkan pada pilihan-pilihan. Saya punya mimpi, namun mimpi itu sementara harus tertunda karena Tuhan memang berkehendak demikian. Tetapi saya punya mimpi lain, dan itu masih bisa saya wujudkan jika saya berniat mewujudkannya. Mimpi yang sedikit ingin saya tunda karena yang tadi saya bilang: tergoda untuk mengumpulkan uang dulu. Sama seperti yang terjadi pada pemilik toko kristal. Namun saya khawatir jika kemudian nasib saya seperti si pemilik toko kristal. Jika nanti saya sudah punya uang, apakah saya punya cukup waktu untuk mewujudkan mimpi saya? Apakah saya cukup berani untuk meninggalkan apa yang sudah saya punya? Dan apakah-apakah lainnya.

Haruskah mimpi ini tertunda?

[Repost Mei 2012 di http://nulisaja.multiply.com/journal/item/366/Menunda-Mimpi]

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. wahidyankf says:

    Selalu menjadi hal yang menarik nih cha sebenernya masalah menunda mimpi ini.. Dari pengalaman temen-temen gua sih, sebagian besar bernasib seperti pemilik toko kristal itu.. Mereka sendiri tau kalo mereka pengen banget ngejar mimpi itu, tapi entah kenapa seperti ada yang nahan buat gak ninggalin kenyamanan yang udah didapetin.

    Cuman ada juga sih segelintir temen-temen gua yang akhirnya ngejar mimpinya, dengan resiko kehilangan kenyamanan yang pernah mereka dapet. Tapi yang ini bener-bener cuman segelintir.

    Kesimpulan: dari statistik di kehidupan temen-temen gua, amat susah mewujudkan mimpi setelah mengumpulkan uang terlebih dahulu. 😕

    Like

    1. And you are now about to pursuit yours, yok. Good luck! 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s