Kisah Pulau Mengkudu: ‘Berbincang’ dengan Kakek

Kilas balik. Suatu sore di bulan Agustus 2009. Ah ya…bahkan saya masih ingat tanggalnya: 19 Agustus 2009. Hari itu benar-benar tak terlupakan. Dan hari itu pula saya berniat untuk menuliskan segala sesuatu yang terjadi. Karena segala sesuatu itu adalah hal yang tidak biasa bagi saya.

Saya sedang berada di tanah Bangka, sehari sebelum kegiatan Percobaan Pariwisata Desa Bintet. Agar lebih sistematis lagi, baiklah… Saya saat itu sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan tema “Pengembangan Pariwisata Pesisir Pedesaan Berbasis Masyarakat dan Lingkungan di Desa Bintet, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka”. Huuff…panjang ya judulnya. Jadi di akhir program KKN, kami mengadakan acara puncak yaitu Percobaan Pariwisata, dimana kami mengundang para pejabat kabupaten dan kecamatan, para turis lokal, wartawan (sebagai media partner), serta tak ketinggalan biro perjalanan.

Salah satu wisata andalan yang kami angkat dari Desa Bintet adalah wisata Pulau Mengkudu. Pulau itu bisa ditempuh selama kurang lebih 15-20 menit dengan menggunakan perahu motor dari Pantai Pesaren, Bintet. Pulai itu menarik karena gugusan karang indah yang mengelilinginya. Pulaunya sendiri tidak terlalu luas tetapi cukup menyenangkan untuk dijadikan tempat trekking.

“Cha, lo bisa Bahasa Arab kan?” Tanya salah seorang teman saya waktu itu.

“Hmm…ya bisa sih kalau sekedar ‘assalamu’alaikum’, hehe… “ jawab saya sambil nyengir. Iya iya… waktu menuntut ilmu di madrasah aliyah dulu (ceile..) saya memang pernah belajar bahasa Arab tapi sekarang sudah banyak yang (ter)lupa(kan).

“Yah siapa dong yang bisa Bahasa Arab?” teman saya bingung.

Gue ngerti dikit banget…itu juga pasif. Kenapa emangnya?”

Lalu teman saya bilang bahwa kami akan observasi ke Pulau Mengkudu satu hari sebelum Percobaan Pariwisata. Selain untuk melihat kondisi pulau dan bersih-bersih, kami juga konon akan “menghadap” sang penghuni. “Penghuninya berbahasa Arab, Cha…”

Wah gawat juga kalau tidak ada yang bisa “berkomunikasi”. Walaupun demikian, akhirnya saya dan lima orang teman ditambah Pak RT Pesaren dan beberapa warga bertolak dari Pantai Pesaren menuju Pulau Mengkudu. Sebelum berangkat, tak lupa Pak RT membeli garu/hio (stik kayu untuk dupa) dan berbagai alat sembahyang yang biasa ada di klenteng (tempat ibadah penganut Konghucu).

Ada semacam rural legend (if it’s not urban legend) yang dipercayai oleh warga lokal bahwasanya Pulau Mengkudu adalah pulau angker dan suka memakan korban. Di sekeliling pulau ini kabarnya dahulu adalah sarang hiu. Entah kini masih ada atau tidak. Ada pula cerita bahwa dulu pernah ada sekelompok penambang timah yang singgah di Pulau Mengkudu dan kemudian ditemukan tewas. Kata teman saya sih bisa saja penambang itu tewas setelah digigit nyamuk malaria. Hehe..entahlah apakah semua itu bisa dijelaskan secara ilmiah. Yang jelas, masyarakat lokal percaya bahwa pulau itu “berpenghuni”. Mungkin memang ada, di dunia yang berbeda dengan kita (wah, ngomongnya udah mulai berbau mistis nih).

***

Sewaktu kami tiba di Pulau Mengkudu, cuaca tidak terlalu cerah. Laut pun agak pasang sehingga karang-karang indah hanya sebagian kecil yang terlihat. Saat itu, saya yang merupakan satu-satunya perempuan dalam tim itu diminta berhati-hati. Karang-karang menuju pulau cukup licin dan katanya kemungkinan masih banyak ular di sela-sela karang dan belukar di pinggi pulau. Wow…fantastis!

Setelah sedikit berjalan, terlihatlah sebuah klenteng. Sudah menjadi sebuah ritual untuk sembahyang ketika mendatangi pulau Mengkudu. Pak RT dan warga yang ikut sudah melakukan sembahyang, juga seorang teman saya yang beragama kristen. Mereka duduk manis, memegang garu, komat-kamit, lalu menaruh garu di depan nisan yang ada di depan klenteng.

“Sembahyang, Cha…” kata Pak RT kepada saya yang sedang duduk-duduk di depan klenteng.

“Ehmm…” saya bingung mau bilang apa, sambil meminta jawaban juga dari teman muslim saya yang lain.

Nggak apa-apa..kita di sini juga ada yang muslim kok. Ya cuma ritual saja, berdoa menurut kepercayaan masing-masing,” Pak RT menjelaskan.

Saat itu kebetulan teman saya yang bernama Afif baru keluar dari klenteng setelah melakukan ritual.

Lo barusan ngapain fif?” Tanya saya penasaran.

“Hehe…pas di klenteng tadi gue baca syahadat aja,” jawab Afif kalem.

That’s a smart idea. Di satu sisi, saya ingin menghormati kebiasaan penduduk setempat. Tapi takutnya sembahyang pakai garu segala macem malah jadi syirik. Hmm…ya sudah, mengikuti jejak Afif saja. Saya membaca syahadat sambil memohon keselamatan dan perlindungan agar saya dijauhkan dari syirik. Accomplished.

Tiba-tiba, salah seorang warga — sebut saja Koh Ahong — seperti sesak napas dan dirasuki sesuatu. Ia menepuk-nepuk pahanya sendiri, seperti menahan sakit. Wajahnya memerah. Oh well…here we go. “Kakek” telah datang.

Ia berjalan memasuki klenteng. Pak RT segera memberikan isyarat agar semuanya turut masuk ke dalam klenteng. Koh Ahong sudah bukan dirinya lagi. Ia kini adalah “Kakek”, panggilan akrab untuk sang penghuni Pulau Mengkudu.

Kakek duduk di tengah klenteng menghadap ke meja sembahyang. Kami semua mengelilinginya membentuk setengah lingkaran. Saya ingat, posisi saya adalah di belakang kakek, arah jam 4. Untuk sebuah cerita, mungkin ini bukan sebuah cerita horor. Tapi jujur saja saat itu benar-benar menegangkan, mendebarkan, dan segala sinonimnya. Segala pemikiran logis berujung kepasrahan. Segala ketidakpercayaan berujung kenyataan. Apa yang akan terjadi..terjadilah. Kami semua berada di pulau yang jauh dari daratan lainnya, dikelilingi samudra, dipayungi awan mendung. Saya komat-kamit. Dzikir, membaca ayat kursi dan surat-surat lainnya.

Karena Koh Ahong kini adalah Kakek, maka suaranya pun adalah suara Kakek. Berat dan memang mencirikan seorang yang sudah tua. Pada awalnya ia berbicara bahasa yang entah apa, tak ada seorang pun yang mengerti. Pak RT bertanya kepada saya apakah itu Bahasa Arab. Jawabannya: jelas-jelas bukan Bahasa Arab. Saya yakin 100% tidak ada kosakata semacam itu dalam bahasa Arab. Kakek tetap berbicara dengan cepat, entah bahasa apa lagi. Kami semua bingung Kakek ini maunya apa.

Dalam ketegangan itu, terselip sesuatu yang lucu, setidaknya bagi saya. Pak RT yang bertindak sebagai juru bicara akhirnya berkata, “Maaf Kek, di antara kami tidak ada yang mengerti. Tolong Kakek pakai bahasa Indonesia saja.”

Serta merta sang kakek berbicara bahasa Indonesia. Yaelaaah…kenapa nggak dari tadi aja sih, Kek? Hehe..

Komunikasi pun kemudian berjalan lancar. Pak RT mengutarakan maksud kedatangan kami ke pulau itu. Ia bercerita bahwa ada tamu mahasiswa KKN dari Jawa dan berniat mempromosikan pariwisata di Desa Bintet, termasuk Pantai Pesaren dan Pulau Mengkudu. Ia meminta izin para tamu dari pejabat pemerintahan dan wisatawan akan datang mengunjungi Pulau Mengkudu. “Apakah Kakek mengizinkan?” Tanya Pak RT.

Saya yang sedari tadi menunduk dan berdzikir terkaget-kaget ketika tiba-tiba Kakek melemparkan dua buah batu kecil yang berbentuk seperti lempengan namun agak cekung. Batu itu hampir saja mengenai teman saya yang duduk di belakang Kakek dengan arah jam 6. Saya tidak bisa membayangkan betapa kagetnya ia. Hasil lemparan kakek adalah: dua-duanya terbuka atau dengan kata lain bentuk yang cekung menghadap ke atas.

Kakek menganguk-anggukkan kepalanya. “Iya..boleh..boleh…”

Sesaat kami menarik napas lega.

Ternyata jika keduanya terbuka berarti boleh. Jika satu terbuka dan satu tertutup berarti silakan mencoba lagi (melempar lagi). Jika keduanya tertutup, berarti tidak boleh.

Pak RT kemudian melanjutkan pertanyaan lainnya seperti bolehkah kami menebang ranting-ranting yang menghalangi jalan, dll. Intinya, Kakek berpesan agar semua yang berkunjung ke pulau itu harus sopan dan jangan merusak lingkungan. “Kakek tidak suka orang yang mengganggu dan tidak menghormati Kakek,” katanya. Di sela-sela perkataannya, Kakek sempat mengucap “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) dan puji-pujian lainnya.

Salah satu hal yang juga masih saya ingat, Kakek berkata, “Sebentar lagi Kakek akan berpuasa. Jadi tolong yang datang ke sini jangan makan di depan Kakek.” Saya langsung berpikir, oh iya ya, saat itu menjelang bulan Ramadhan.

Saat perjalanan pulang, langit sudah agak gelap. Koh Ahong sudah kembali ke dirinya lagi. Wajahnya yang ramah dan periang pun telah kembali lagi. Ia memandang lautan yang luas, lalu bertanya kepada kami para mahasiswa KKN, “Kalian percaya nggak sama yang barusan kalian alami?”

“Hmm…” kami senyum-senyum. Percaya nggak percaya. Saya pikir, memang ada dunia lain, hal-hal yang tidak bisa kita lihat atau tidak tercapai oleh logika. Yang terpenting adalah kita tetap berpegang teguh pada apa yang kita yakini.

“Dari kapan bisa seperti itu, Koh?” Tanya salah seorang teman saya.

“Kira-kira sejak dua tahun yang lalu. Ini bukan ilmu dan saya nggak belajar. Kemampuan seperti ini datang begitu saja. Di keluarga saya memang turun-temurun. Dulu ayah saya juga bisa. Awalnya saya merasa ada yang mendatangi saya. Ya kakek itu. Ia mengangkat saya menjadi muridnya.”

“Akoh Konghucu ya?”

“Iya… Tapi saya juga percaya Islam. Karena Kakek kan juga beragama Islam,”

Kapal terus melaju ke menuju Pantai Pesaren. Di sisi sebelah kiri, terlihat Tanjung Mengkudu yang indah, namun sampai saya meninggalkan Bangka, saya belum pernah menginjakkan kaki di sana. Alhamdulillah kegiatan Percobaan Pariwisata yang diadakan keesokan harinya dapat berlanjar lancar, aman, dan tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Para tamu undangan juga memuji-muji keindahan Pulau Mengkudu.

Hikmah yang saya petik, kepercayaan masyarakat akan hal-hal mistis terkadang memiliki nilai positif dalam hal pelestarian lingkungan. Misalnya saja masyarakat percaya bahwa Kakek akan murka jika pulau Mengkudu menjadi kotor dan tidak terawat. Dengan demikian, masyarakat akan berusaha menjaga pulau tersebut. 🙂

*Catatan:

Barusan saya googling ‘Pulau Mengkudu Bangka’, yang muncul tautan ke web ini: http://teamtouring.net/berpetualang-ke-pulau-mengkudu.html

Pas dilihat-lihat kok itu ada foto Ano ya, teman KKN saya. Hahaha.. Mungkin dia admin dari web tersebut. 😀

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. ayanapunya says:

    wkwkwkwk…coba klo pak RT ga bilang biar pake bahasa Indonesia aja. kira-kira bakalan gimana, ya? 😀

    Like

    1. Haha.. Ya mungkin pakai bahasa kalbu aja mbak. :p

      Like

  2. annosmile says:

    mungkin da benarnya juga peradaban masa lampau lebih modern dengan zaman sekarang, teringat cerita portal misterius pada lubang di pulau mengkudu
    *ngaco lagi bangun tidur*

    Like

    1. Ehh ano? Portal yang mana ya?

      Like

      1. annosmile says:

        mosok lupaa..yg dicritain kokoh ituu

        Like

  3. Waduh……………saya sudah baca sampai tamat, tapi yang saya harapkan tidak muncul. Saya ingin tahu berapa banyak pohon mengkudu di pulau itu,apakah pohonnya berbuah lebat,dan satu lagi apakah buahny besar-besar atau kecil-kecil ? Terima Kasih atas artikel yg mengundang saya beri komentar disini.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s