Ekspedisi Bromo

Juli 2008

Sudah sering saya melihat liputan perjalan ke Bromo di televisi. Dan setiap saya menonton, rasa ingin jalan-jalan ke Bromo selalu hadir. “Kapan ya saya kesana?” Padang pasir spektakuler, padang rumput menghijau, dan segala panorama yang membuat saya menahan napas.

Terkadang, apa yang direncanakan jauh-jauh hari ujung-ujungnya tidak tercapai, malah rencana mendadak yang akhirnya kesampaian. Seperti ekspedisi ke Bromo ini, setelah batal berangkat dengan beberapa teman, saya malah jadi berangkat mendadak setelah diajak teman saya, Dara, untuk bergabung dengan rombongan teman-temannya anak Arsitektur ITB dalam ekspedisi Bromo-Malang-Pulau Sempu. Dengan pertimbangan bahwa saya jadi tak usah menyusun rencana perjalanan (itinerary) sendiri, saya memutuskan bergabung.

Oleh salah seorang teman Dara, sebelum keberangkatan saya dikirim handout persiapan ekspedisi, termasuk di dalamnya yaitu perlengkapan yang harus dibawa, jadwal perjalanan, dan deskripsi singkat mengenai tempat tujuan. Saya pun siap-siap dengan riang gembira :D. Rencana keberangkatan adalah hari Minggu, 20 Juli 2008, di gerbang Ganeca ITB.

Sehari sebelumnya, saya berangkat ke Bandung, sekalian reuni dulu dengan beberapa teman SMA. Sampai waktu Magrib hari itu, saya belum juga bertemu Dara, padahal dia bilang akan sampai di Bandung sore itu. Kabar buruk kemudian datang dari Dara. Dia bilang bahwa dia tidak dapat travel untuk ke Bandung. WHATTT???!!! Berarti besok Dara tidak ikut ke Bromo? IYA! Dia tidak ikut! Huaa..bagaimana caranya saya diajakin Dara, tapi Dara malah tidak jadi ikut. Saya juga tidak terlalu mengenal teman-temannya. Terbayang deh besok paginya saya datang ke gerbang Ganeca sendirian kayak anak hilang…

Tapi ternyata, it wasn’t that bad. Teman-teman Dara menyambut saya dengan hangat.

So, what could I say about Bromo? It was greattt!!!

Bromo, Pasir, Angin, Ilalang, dan Semua…

Ke Bromo jangan banyangkan mendaki gunung dengan semak belukar dan pepohonan yang lebat. Karena yang ada adalah padang pasir. Tinggal tambahkan alunan musik Timur Tengah dan unta saja, maka sejenak kita akan berimajinasi berada di negara-negara Arab.

Freedom!

Adakah yang ke Bromo dengan berjalan kaki dari kawasan pemukiman Tengger? Saya juga kurang tahu. Pernah sih..sekali melihat bule yang berjalan kaki seorang diri menuju ke Ranu Pane. Masya Allah…itu kan jauh sekali! Mana ditambah terik mentari dan tiupan angin yang menerbangkan debu! Waahhh…

Biasanya orang-orang naik hardtop dengan tarif yang beragam tergantung tujuannya. Bisa ke Ranu Pane, Gunung Pananjakan (spot untuk hunting sunrise Bromo-Semeru), atau ke kawah Bromonya. Tarif berkisar 250ribu-350ribu per hardtop (ini harga 2008 lho yaa..), dan satu hardtop bisa diisi 6 penumpang. Sebenarnya bisa lebih…tapi tidak diizinkan oleh sang supir, hehe..

Saya baru mengerti kenapa ada orang-orang yang suka off road. Sensasinya memang luar biasa! Weww… Di hardtop udah ajrut-ajrutan terbanting kesana kemari. Selain melewati padang pasir yang gersang, juga mendaki jalan berliku yang lumayan..ehm..lumayan hancur (sebagian) dan curam.

Yang nikmat itu…waktu hardtop berhenti di beberapa spot yang bagus untuk hunting foto. Kalau di tengah padang pasir…tidak terlalu nyaman dinikmati lama-lama, mata bisa kelilipan terus karena anginnya lumayan kencang. Tapi kalau pas di padang rumputnya…asik juga. Bisa santai-santai, duduk-duduk, mendengarkan nyayian rumput ditemani tarian angin (duile…). Bisa merebahkan diri di atas rumputnya. Diam merenung. Pokoknya menyatu aja dengan alam. Lihat semua yang bisa dilihat. Dengarkan semua yang bisa didengar. Tapi, sesekali memejamkan mata boleh juga. Dan rasakan semuanya dengan hati…

Ranu Pane

Sayang sekali, tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari tempat ini. Bisa jadi danaunya luar biasa indah… tetapi sewaktu saya ke sana sedang gerimis dan diselimuti kabut tebal. Yang saya lihat hanya PUTIH. Warna air, langit, dan kabut yang seolah tanpa batas. Hmm…mungkin itu juga menjadi pesona tersendiri ya… Jadi ingat cerita Ranu Pane di novel 5cm yang bercerita tentang anak-anak muda, sahabatan, yang melakukan perjalanan menuju Mahameru. Luar biasa!

Misty Ranu Pane

Kami sempat berjalan-jalan di kawasan sekitar danau. Serunya…ada sesuatu bernama PAPAN VANDALISME! Hahaha…daripada corat-coret sembarangan kali ya…jadi disediakan satu tembok untuk melampiaskan hasrat narsis atau menulis kesan pesan di situ. Lucu…ada yang sampe ngasih alamat Friendster segala! (Guys, 2008 Friendster masih happening ya :p)

Capturing Sunrise!

View from Pananjakan

Matahari itu sering di cari-cari, baik ketika terbit maupun terbenamnya. Dan di kawasan Bromo Tengger Semeru, gunung Pananjakan adalah spot oke untuk berburu suasana sunrise yang indah. Saya dan rombongan berangkat dari losmen sekitar jam 3.30 pagi. Perjalanan dengan hardtop ke Pananjakan memakan waktu kurang lebih 45 menit, lalu dilanjutkan dengan sedikit mendaki. Udara tentu saja dingin, makanya sebelum pendakian, banyak orang menyewakan jaket dan semacam selimut. Kalau ingin menghangatkan badan atau mengisi perut, juga banyak terdapat warung-warung yang menyediakan minuman hangat, mie instant, dan lain-lain, yang tentu saja lumayan menguras daerah surplus konsumen (maksudnya: harga yang khas tempat wisata, hehe…).

Kalau mau mendapat tempat yang nyaman untuk memotret, memang mesti datang lumayan jauh sebelum waktu matahari terbit. Sooner the better! Soalnya mendekati jam 5, semakin banyak turis yang datang (kebanyakan turis asing), semakin berdesakan pula untuk mendapat tempat yang nyaman untuk memotret. Hmm..memang pegel dan kedinginan juga sih menunggu lumayan lama. Namanya juga pengorbanan.. 😀

Kawah Bromo dan Sekitarnya

Sekitar jam 9, kami sampai di kawasan kawah Bromo. Nah, di sini nih tempat yang penuh dengan kuda. Baru ada hardtop mendekat saja, mereka yang menyewakan kuda sudah langsung heboh menawarkan kudanya dengan sangat agresif. Kalau tidak salah sih mereka menawarkan naik kuda sampai ke tanjakan menuju kawah Bromo dengan tarif RP70.000 (sekali lagi, ini harga tahun 2008). Ah, saya mau jalan saja ah…sehat dan menghemat uang. 😀

Sebelum mendaki ke puncak Bromo, di bawahnya terdapat satu Pura. Kebetulan waktu saya ke sana sedang ada umat Hindu yang beribadah. Turis boleh masuk ke Pura-nya…tapi di dalamnya ada bagian yang ditutup karena khusus untuk sembahyang.

Baiklah..mari kita mulai pendakian. Saya bersemangat sekali karena akhirnya ada juga adegan mendaki, hahaha… Walaupun suasananya amat terik, panas, debu….ah tetap sempurna! (sempurna jadi gosong!) Di ujung pendakian ada sebuah tangga yang konon memiliki 250 anak tangga. Waktu itu ada yang menghitung dan bilang pas sampai puncak, “Huaaa…251 anak tangga!” Saya tertawa, “Hahaha…rajin banget lo ngitung!” Lalu tiba-tiba ibu penjual minuman di situ bilang, “Bukan, Mbak, ada 253 anak tangga kok!” Huahahaha…salah ya!?

Anak-anak pada bilang, “Wuihh…tangga aborsi!” Maksud lo? Jadi katanya kalo orang hamil naek tangga ini, bisa langsung melahirkan, hehehe (sangking capeknya)… Aya-aya wae!

Saya paling duluan sampai di atas (emang lagi semangat naik gunung tapi belum kesampean). Waktu itu benar-benar tak ada siapa-siapa di puncak selain saya dan ibu penjual minuman. Perasaan yang selalu muncul saat di Puncak: LEGA! Tinggal menikmati angin dan memandangi semesta sekitarnya. Subhanallah…

“Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman:13)

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. ayanapunya says:

    fotonya keren-keren bangettttt

    Like

    1. Makasih, Mbak! 🙂

      Like

  2. Jadi pengin kesana *droll

    Like

    1. Ayooo..ajak Hari kesana! 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s