Tentang Perbedaan. Tentang Keberagaman.

Saya terlahir di Indonesia. Agama saya islam. Saya tinggal di Pulau Jawa. Di kehidupan sosial masyarakat sekitar, saya adalah mayoritas.

Mayoritas dan minoritas. Dua hal itu mau tak mau ada dalam kehidupan sosial kita. Mayoritas dan minoritas bisa dilihat dari banyak segi, bisa agama, suku bangsa, kondisi fisik (warna kulit, warna rambut, bentuk mata, dll), dan sebagainya. Tak bisa dielakkan lagi, terkadang ada superioritas dari sang mayoritas. Sebaliknya, yang minoritas terdiam di pojokan, tak berdaya dan merasa inferior (baca: dipaksa menjadi inferior). Mayoritas-minoritas ini bersifat relatif berdasarkan tempatnya. Disini ia mayoritas, jika ia berpindah ke tempat lain, bisa saja ia langsung berubah menjadi minoritas.

Dalam hal sehari-hari, mayoritas-minoritas dapat dilihat ketika anak-anak mengucilkan temannya yang berbeda etnis. Mungkin perbedaan itu bisa mudah dilihat oleh anak-anak misalnya dari perbedaan warna kulit dan jenis rambut. Atau bisa jadi, di wilayah mayoritas beragama A, satu-satunya anak beragama B tidak ditemani dan dijadikan bahan olok-olok temannya.

Bagi anak yang sejak kecil hidup di lingkungan yang heterogen, ia punya kesempatan lebih banyak untuk belajar mengenai perbedaan dan keberagaman. Itupun perlu arahan dari orang dewasa seperti orang tua dan guru di sekolah. Akan tetapi anak yang dibesarkan di lingkungan homogen (dan tidak diajarkan tentang keberagaman), ketika suatu saat ia melihat ada yang berbeda darinya, ia akan kaget. Bisa pula berujung respon yang negatif atau penolakan terhadap sesuatu yang baru atau berbeda itu.

Murid-murid saya di Bawean pernah bertanya gereja itu apa. Pertanyaan itu muncul dari murid kelas 5. Saya bilang, “Gereja adalah tempat ibadah umat kristen dan katolik. Memang sebelumnya belum pernah belajar?” Mereka menggeleng. Padahal setahu saya materi itu seharusnya sudah diajarkan di kelas rendah. Ah mungkin mereka lupa. Sudah lupa, mereka tak punya contoh pula dari lingkungan di sekitarnya, karena orang Bawean semuanya muslim (mohon koreksi jika keliru). Ditambah orang dewasa di sekitarnya pun sebagian tidak memberikan pengertian bahwa selain muslim, ada pula orang lain yang menganut agama berbeda.

Setelah tahu ada perbedaan, banyak anak yang tidak diarahkan bagaimana menyikapi perbedaan itu. Jadi mengetahui saja tidak cukup. Oh…orang islam beribadah di masjid. Orang Kristen dan Katolik beribadah di gereja. Orang Hindu beribadah di pura. Orang Buddha beribadah di vihara. Belum, belum selesai sampai disitu.

Atau saat anak belajar bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, persoalan belum berhenti sampai disitu. “Anak-anak, kita harus saling menghormati,” juga belum selesai sampai disitu. Kita sering lupa menerapkannya dalam sikap dan kehidupan sehari-hari.

kita berbeda

Saya secara berkala mengajak anak-anak menonton video di laptop saya. Video tersebut berseri menceritakan kehidupan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia. Mereka jadi tahu bahwa di daerah lain ada yang harus naik sampan kalau mau sekolah. Ada juga anak-anak yang sejak kecil sudah bisa memanah karena biasa membantu orang tuanya berburu hewan di hutan, dan sebagainya. Mereka juga jadi tahu bahwa bahasa dan kebiasaan di setiap tempat juga bisa jadi berbeda.

Suatu hari, waktu video yang diputar adalah tentang anak-anak di Indonesia Timur, ada beberapa anak lelaki yang tertawa. “Celeng ongghu, Bu!” katanya. Mereka bilang anak-anak itu hitam sekali kulitnya. Saya bilang, itu adalah kekayaan yang diberikan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, kalau kita menertawakan mereka, berarti kita juga menertawakan Sang Pencipta. “Siapa berani menertawakan Allah?” tanya saya. Semuanya diam.

***

Itu hanya satu dari sekian banyak contoh. Saya jadi ingat cerita Agustinus Wibowo dalam bukunya ‘Garis Batas’. Buku ini menceritakan perjalanannya di negara-negara Asia Tengah. Ada Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Di suatu kota di Kirgiztan, ia pergi ke Tokmok, sebuah kota kecil tak jauh dari Bishkek, ibukota negara tersebut. Tokmok adalah kota tempat berkumpulnya orang Dungan yang katanya merupakan keturunan campuran Arab dan Tiongkok. Mereka berbicara bahasa Mandarin, bukan Bahasa Kirgiz. Namun karena sempat berada di bawah rezim Uni Soviet, bahasa Mandarin itu ditulis dengan huruf sirilik (seperti dalam bahasa Rusia).

Apa yang istimewa dari orang Dungan ini? Diskriminasi. Mereka hidup dalam derita kaum minoritas di Kirgizstan. Mereka tak punya KTP nasional, tak pula punya paspor. Kartu identitas mereka istimewa, lain dari yang lain. Kartu identitas orang Dungan hanya mengizinkan mereka bepergian dengan radius maksimal 60 km. Jangankan mau ke luar negeri, pergi ke tempat-tempat lain di dalam negaranya saja masih mimpi. Demikianlah dunia yang diciptakan oleh perbedaan mayoritas dan minoritas.

Hal ini juga mengingatkan Agustinus akan masa kecilnya sebagai warga Tionghoa di Indonesia. Saat itu masih rezim Suharto dimana segala yang berbau Cina harus dihilangkan. Nama harus diganti, tempat ibadah sulit mendapatkan izin, merayakan hari besar dan tahun baru Cina dilarang, dan sebagainya. Diskriminasi itu juga datang dari teman-teman dan bahkan guru di sekolah. Guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) pula! Maka ia tumbuh sebagai anak yang selalu merasa inferior dan tak percaya diri.

***

Sewaktu di Korea, saya menjadi minoritas. Selama di Indonesia, saya tak pernah kesulitan mencari tempat solat. Waktu sekolah dan kuliah pun tak berbenturan dengan waktu solat, setidaknya disediakan waktu khusus untuk solat. Tetapi di Korea, tak ada cerita jam kuliah menyesuaikan waktu solat. Kalau sudah waktunya solat dan masih di tengah perkuliahan, saya harus sadar diri untuk izin keluar kepada dosen. Lalu dimana solatnya? Kalau mau kembali ke asrama jaraknya jauh dan pasti menghabiskan banyak waktu. Maka saya dan beberapa teman muslim meminta izin sekaligus masukan kepada pihak kantor internasional untuk dapat solat di salah satu ruangan yang ada di kampus. Akhirnya kami diizinkan solat di sebuah lounge mahasiswa.

Teman, izin itu sepertinya sangat sederhana tetapi sungguh berarti. Ketika kita menjadi minoritas, maka banyak sekali hal yang harus kita kompromikan. Banyak hal yang awalnya wajar namun sekarang mesti kita perjuangkan.

Saat bulan Ramadhan tiba, saya memutar otak bagaimana caranya sahur. Di asrama tidak ada dapur mahasiswa dan memang tidak diizinkan memasak. Namun di kamar saya ada microwave. Saya pun berpikir untuk menyisihkan sedikit makan malam saya untuk dibawa ke kamar dan dihangatkan untuk sahur. Namun saya dimarahi ajumma (ibu-ibu) petugas kantin saat ketahuan membawa nasi. Katanya makanan apapun tidak boleh dibawa ke kamar. Saya sudah beritahu bahwa saya puasa dan makanan ini untuk sahur (waktu itu saya diberitahu kosakata ‘puasa’ dalam bahasa Korea). Saya bicara, si ajumma pun terus bicara. Kami tak mengerti satu sama lain. Sampai akhirnya salah seorang mahasiswa Korea menolong saya menjelaskan kepada ajumma tadi. Ia masih tidak paham terminologi puasa, tapi sedikit-sedikit melunak. Ia jatuh kasihan kepada saya. Akhirnya saya diizinkan membawa nasi untuk sahur.

Lihat, kepedulian sederhana ternyata punya dampak yang sangat berarti kan? Coba kalau mahasiswa Korea tadi cuek bebek.

Selama di Korea, banyak orang berbeda agama yang bersikap toleran terhadap saya yang minoritas. Mereka bahkan tak jarang membantu saya dalam hal makanan dan beribadah (dengan cara menyediakan tempat misalnya). Tapi pernah terjadi juga hal yang tidak mengenakkan. Saya diundang makan ke rumah teman Korea saya. Ketika sudah masuk waktu solat, saya dan teman saya minta izin untuk solat di rumahnya. Ternyata kami tidak diperbolehkan dengan alasan suaminya tidak memberi izin. Akhirnya kami terpaksa buru-buru pulang agar sempat solat di asrama.

Mungkin kelompok mayoritas yang tak pernah merasakan menjadi minoritas cenderung bersikap sewenang-wenang. Saya sedih sewaktu ada ormas Islam yang merusak warung makan yang tetap buka saat Ramadhan. Memang betul bahwa kita harus menghormati yang berpuasa, namun dengan bersikap demikian, ia juga tidak menghormati hak orang lain. Solusi paling sederhana mungkin adalah tetap buka tetapi ditutup tirai seperti yang kebanyakan ada. Kalaupun tidak, kita tidak punya hak untuk merusak. Untuk apa berpuasa tapi tidak bisa mengendalikan amarah dan hawa nafsu? Di luar negeri sana banyak muslim minoritas yang tetap berpuasa sementara orang-orang di sekitarnya tetap makan dan minum seperti biasa.

Sudah saatnya kita lebih bijak dalam menyikapi perbedaan dan keberagaman. Karena kedua hal itu adalah keniscayaan, akan terus ada dalam kehidupan kita.

Renungan akhir Ramadhan, Renungan #17Agustus

*foto dari SINI

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. danpa says:

    kaka, izin di share ya 😀

    Like

  2. tiara says:

    mba ica, i feel you banget soal post ini..
    pengennya semua orang punya pengalaman jadi minoritas biar pada punya rasa toleransi gitu..
    nice one, aku dah follow blogmu 🙂

    Like

    1. Okay! Thanks for reading, ti. 🙂
      I think we — who had experience being minority — will be more opened about this matter. I hope the others will try to understand, too. 🙂
      Kita nanti bisa ajarkan ke anak2 kita soal ini. Hehe..

      Like

  3. Fee says:

    Kecenderungan orang untuk diskriminasi itu selalu ada dimana-mana…walaupun punya sejarah tidak sempurna Indonesia masih termasuk negeri yang toleransinya pada perbedaan cukup tinggi lho. Saya jarang percaya berita yang diberitakan di media, ya, melihat kenyataan sehari-harinya saja..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s