Weekend Getaway: Antara Bunga dan Sate

Kalau saya jalan-jalan ke Pacet – Cianjur, tempat dimana saya dibesarkan semasa SD, hal yang tidak akan saya lewatkan adalah makan sate maranggi. Sate ini terbuat dari daging sapi dengan cita rasa khasnya yaitu agak manis. Saya pernah cerita tentang sate ini sama Chendra, dan dia penasaran ingin mencoba. Akhirnya Februari 2011 lalu Chendra sukses mencicipi sate maranggi kesukaan saya.


Namanya Sate Maranggi Sari Asih. Letaknya di seberang Kantor Pegadaian Kecamatan Pacet. Kalau datang dari arah Puncak, lurus terus sampai lewat Pasar Cipanas dan Istana Presiden Cipanas. Sahabat saya, Yani, yang sedang internship di RS Cimacan juga sudah jadi penggemar sate maranggi itu. Jadi akhir pekan itu kami bertiga merencanakan jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara (TBN) di Mariwati, Puncak. Agendanya, setelah jalan-jalan, siang atau sorenya kami akan makan sate maranggi.

Saya dan Chendra berangkat dari Bekasi sekitar jam 7.30 pagi. Alhamdulillah lancaaaar… Sampai di kost Yani di Cimacan jam 9 lewat. Kami tiba di TBN sebelum jam 10 dan suasana masih sepi. Wah ini benar-benar di luar dugaan. Saya pikir hari Minggu bakalan ramai dan udah pasrah aja kalau jalan-jalannya mungkin nggak akan terlalu nyaman. Saya terakhir ke TBN sudah tujuh tahun yang lalu, rasanya belum terlalu banyak perubahan. Tapi karena pengunjung pagi itu sepi, suasananya terasa berbeda. Dan TBN masih menjadi tempat yang menarik untuk bersantai dan menikmati berbagai macam bunga (iyalah namanya juga taman bunga!). Tempatnya juga bersih, teratur, dan tema-tema tamannya cukup beragam dan menarik. Ada Taman Bali, Taman Prancis, Taman Amerika, Taman Jepang, dll.

Berhubung Yani ada jaga siang di rumah sakit, jadi siang itu juga kami meluncur ke rumah makan sate maranggi, setelah sebelumnya saya dan Chendra pakai acara muter-muter nyasar di labirin taman bunga -_-‘ (padahal Yani udah bilang bahwa labirinnya membingungkan).  Begitu sampai di pertigaan kecamatan Pacet, saya bilang belok kiri, eh Yani bilang lurus aja. Ternyata eh ternyata…tempatnya memang sudah pindah dari yang sebelumnya. Masih di sekitar kantor pegadaian sih, tapi yang sekarang ini tempatnya lebih luas. Maklum lah kurang update, terakhir kesini tahun 2009.

Suasana Sate Sari Asih

Baiklaaah..mari kita menikmati sate marangggi. Sate Maranggi Sari Asih ini sudah cukup terkenal, bahkan katanya pernah masuk acara Wisata Kuliner-nya Pak Bondan. Wajar sih..karena rasanya memang top markotop! Ada dua pilihan sate, yaitu sate daging dan sate campur (daging dan gajih alias lemak). Kalau menurut saya, lebih enak makan sate campur. Jangan salah, di tempat ini gajihnya tidak alot dan rasanya enaaak sekali. Sate sapi harganya Rp2500 per tusuk sedangkan sate campur harganya Rp1500. Sate ini pasangannya adalah nasi ketan yang kalau tidak salah satu potong harganya Rp2000. Sate maranggi dan ketan ini kayaknya memang berjodoh, perpaduan yang nikmat sekali. Tapi ada satu lagi yang bisa melengkapi kenikmatannya, yaitu sambal oncom yang pedasnya pas banget. Sluuurrrppp..sempurnalah kenikmatan makan-memakan siang itu :D. Alhamdulillah…

ketan+oncom+sate maranggi = jodoh 😉

Pesan saya, kalau makan di sini jangan terlalu kalap. Buktinya, saya dan Chendra pesan masing-masing sepuluh sate dan berakhir dengan membungkus beberapa tusuk yang masih tersisa karena kami sudah menyerah kekenyangan. Sate di sini tiap tusuknya memang padat sekali, jadi sangat mengenyangkan.

Mau ikut mencoba? 😉

*semua foto dok. Chendra 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s