[AseanTrip-22] Menyusuri Mekong Delta di My Tho

Cerita sebelumnya di SINI

——————————–

[14 Oktober 2010]

Mekong lagi?? Iya, betul. Saya di Vietnam dan lagi-lagi bertemu dengan sungai yang melewati enam negara ini. Setelah di hari sebelumnya pergi ke Cu Chi dengan jasa agen perjalanan, kali ini saya dan Pupu ke My Tho, juga dengan jasa tersebut. Bisa jadi kami memang sudah malas berpikir. Haha.. Tetapi kalau ada paket yang murah meriah dan memudahkan, mengapa tidak? Lagipula My Tho kan cukup jauh dari pusat kota HCMC, kira-kira 1,5 jam perjalanan (72 km).

Apa yang ditawarkan dari paket wisata ke My Tho ini? Wisatawan bisa mendapatkan pengalaman berperahu di Mekong Delta, trekking, sajian kesenian, dan menikmati suasana pedesaan Vietnam. Oh ya, termasuk juga di dalam tur adalah mencicipi penganan tradisional Vietnam dan mengunjungi pusat oleh-oleh.

Untuk tur tersebut, kami perlu merogoh kocek sebesar 8 USD (termasuk mendapatkan makan siang). Waktu itu kami naik minibus karena peserta tur tidak sebanyak kemarin (lagipula kami memakai jasa tur berbeda, dengan maksud untuk bagi-bagi rezeki hihi..). Sayangnya pemandu wisata kali ini tidak semenyenangkan Skinny. Ia hanya menjelaskan seperlunya dan tidak terlalu bersahabat.

Di tengah perjalanan menuju My Tho, kami berhenti di sebuah workshop kerajinan. Oh…ini pasti pesan sponsor deh. Di sana kami melihat para pengrajin membuat hiasan dinding (lukisan) dari remah kulit telur. Saya rasa di Indonesia juga ada ya kerajinan serupa, tapi saya baru kali pertama itu melihat langsung. Hmm..rumit juga, perlu ketelitian dan kesabaran ekstra. Di samping workshop terdapat galeri. Tentu saja pengunjung dibawa kemari dengan harapan akan berbelanja. Tapi dari sekian rombongan tur saya, tidak banyak yang berbelanja, mungkin berat bawanya.

Lanjut lagi menuju My Tho. Mekong Delta ini nampak sama dengan yang pernah saya kunjungi di Can Tho dua bulan sebelumnya (kebetulan saya pernah dinas kantor ke Can Tho, Vietnam). Airnya coklat dan di pinggirnya dipenuhi rumah-rumah panggung penduduk dari kayu. Jauh dari kesan indah sebenarnya, namun inilah Mekong Delta. Waktu saya di Can Tho, saya dan kolega dari Ghent University dan beberapa universitas di ASEAN menyusuri Mekong Delta di pagi hari dan saat itu ada pasar apung dimana banyak penjual makanan dan buah-buahan. Namun di My Tho hari itu saya lihat sepi-sepi saja.

Turun dari kapal motor, kami melanjutkan perjalanann dengan trekking di pedesaan My Tho, melewati pepohonan rimbun dan pemukiman penduduk. Kami berhenti di sebuah saung dengan meja dan kursi tertata rapi seperti di rumah makan. Saya dan wisatawan lain yang ikut tur tersebut duduk manis sambil beristirahat. Kami sedang asyik menikmati suguhan minuman dan cemilan ketika empat wanita Vietnam berbusana ao dai (tulisan aslinya áo dài), pakaian tradisional Vietnam berupa celana longgar dan atasan panjang menjuntai dengan belahan sepinggang, muncul di hadapan kami. Dengan alunan alat musik petik dari seorang pria, mereka berempat melantunkan beberapa lagu Vietnam. Mereka bernyanyi sambil berkeliling mendekati para tamu. Di lagu terakhir, mereka mengajak kami semua turut meramaikan lagu mereka dengan tepuk tangan. Seorang gadis kecil Vietnam juga turut menyumbangkan suaranya. Aiihh..lucu sekali. Usai penampilan tersebut, mereka berkeliling membawa kantong kecil berharap para tamu menyumbangkan beberapa dolar atau Vietnam Dong (VND). Ini sifatnya sukarela saja, bukan wajib.

Bersampan ria!

Nah sekarang saatnya trekking lagi. Kami menuju sebuah jembatan untuk menyambung naik sampan kecil. Sebelum naik, penumpang satu per satu diberi topi anyaman berbentuk kerucut khas Vietnam (di Indonesia topi semacam ini disebut caping, sering dipakai petani ke sawah atau kebun). Di atas sampan, seorang wanita Vietnam yang juga bercaping sudah siap di atas sampan dan bertindak sebagai pendayung. Ia tersenyum ramah tanpa berkata-kata karena mungkin tidak fasih berbahaas Inggris.

Sampan menembus aliran sungai sempit yang di kiri kanannya dipenuhi tanaman nipah. Satu sampan bisa memuat kira-kira enam orang ditambah seorang pendayung. Sampan-sampan berjalan beriringan dan ternyata cukup banyak juga, karena banyak wisatawan dari grup tur yang lain.

Selain itu, masih ada lagi angkutan tradisional lain yang kami cicipi selama tur ini. Gerobak manusia yang ditarik oleh kuda. Kalau di Indonesia sih delman yaa..tapi beneran deh bentuknya masih bagusan delman kemana-mana. Hehe.. Lucunya ada turis Hong Kong yang dari awal tur narsis banget (suka foto-foto close-up diri sendiri pakai HP), pas naik delman ala Vietnam ini girangnya minta ampun dan…ehm..ya tetap foto-foto diri sendiri. Btw di Hong Kong ada delman nggak sih?

Acara dilanjutkan dengan mengunjungi industri kecil pembuatan permen kelapa. Kami bisa melihat prosesnya dari awal sampai akhir. Ada proses yang menggunakan mesin sederhana untuk mengaduk adonan kelapa dan gula. Saya selalu terpana saat proses pembungkusan yang dilakukan tenaga manusia. Mereka cekatan sekali melakukan kegiatan yang memang bagi mereka adalah sebuah repetisi. Adonan permen yang sudah dikeringkan dipotong memanjang, kemudian dipotong lagi kecil-kecil dan dibungkus kertas. Sama terpananya seperti melihat pegawai pabrik rokok melinting tembakau. Di tempat ini, tentu pengunjung juga diharapkan membeli oleh-oleh. Hehe..

Pembuatan permen kelapa.

Rangkaian tur ditutup dengan makan siang. Saya dan Pupu semeja dengan wisatawan dari Australia dan Amerika. Kami banyak mengobrol. Waktu tahu kami baru saja lulus kuliah, mereka bilang keren banget. “Apanya yang keren?” saya bertanya. “Iya..anak muda harus banyak jalan-jalan dan melihat dunia luar,” kata si orang Amerika, “You are brave, I’m very proud of you, girls. You must learn many things from this journey. And after this, you won’t be the same persons.” Huhuhu..terharuuu. Terima kasih, Mister.. :’)

Jujur saja, buat saya tur ini tidak terlalu istimewa. Mungkin karena saya berasal dari negara Asia Tenggara juga yang dari segi keadaan alam dan budaya agak-agak mirip. Tapi, ada yang bisa saya pelajari dari perjalanan ini. Saya pikir sebenarnya tur ini sederhana, bukan sesuatu yang dibuat baru. Maksudnya begini, semua sumber daya untuk tur tersebut memang sudah ada di masyarakat. Perahu motor, sampan, delman, memang alat transportasi penduduk setempat. Lagu dan musik daerah memang kekayaan yang sudah ada sejak dahulu. Dengan adanya tur ini, penduduk lokal tentu memeroleh banyak keuntungan. Roda ekonomi mereka terus berputar dari penerimaan transportasi, seni, dan makanan. Industri kecil penghasil oleh-oleh makanan tradisional juga memiliki akses pemasaran.

Nah, coba kita pikirkan sumber daya di masing-masing kampung halaman kita. Adakah hal-hal menarik yang kira-kira bisa dikemas dalam paket tur semacam ini? Indonesia itu kaya, Jenderal!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s