[AseanTrip-20] Tiba di Ho Chi Minh City

[12 Oktober 2010]

Pagi itu, saya dan Pupu berangkat ke terminal bus Phnom Penh diantarkan Somarika dan ibunya. Beruntung sekali selama di Phnom Penh kami berdua ditemani oleh teman-teman Cambodia yang begitu baik. Perjalanan bus kali ini akan membelah perbatasan Cambodia dan Vietnam. Kami berangkat dengan penuh harap semoga hal-hal buruk di Poipet Border tidak terulang lagi.

Bus Phnom Penh – HCMC

Bus yang membawa kami ke Ho Chi Minh City bernama Mekong Express Limousine Bus. Dari namanya saja sudah cukup meyakinkan ya? Hehe… Bus tersebut memang terbilang nyaman. Kami hanya berhenti sekali untuk makan siang di sebuah restoran, kemudian melanjutkan perjalanan tanpa transit lagi, kecuali saat pemeriksaan paspor di perbatasan. Total perjalanan dari Phnom Penh ke Ho Chi Minh City memakan waktu tujuh jam.

Believe it or not

Begitu melihat kabel-kabel listrik yang tak beraturan di sepanjang jalan, yakinlah saya bahwa kami sudah memasuki wilayah perkotaan di Vietnam. “Wah, bener ya kata Mbak Icha. Kabel listrik di Vietnam berantakan parah.” kira-kira begitulah reaksi Pupu saat melihat pemandangan yang sama dengan saya. Ditambah saat itu kami melihat ada kabel yang mengeluarkan percikan api. Saya pernah menanyakan hal ini kepada Ngan, salah satu teman saya yang asli Vietnam. Katanya pembangunan kota di sini terkesan tergesa, kebutuhan listrik sangat tinggi, sampai-sampai tak sempat menunggu untuk menggali saluran untuk kabel listrik.

Ini adalah kali kedua saya ke Ho Chi Minh City. Sebulan sebelumnya, saya mampir ke kota ini setelah ada perjalanan dinas dengan kantor saya ke Can Tho University di kota Can Tho. Ketika itu waktu yang saya miliki untuk berjalan-jalan hanya kurang dari sehari, jadi benar-benar ekspres.Untungnya waktu itu Ngan memandu saya dan rekan-rekan kerja untuk berkeliling ke spot-spot utama di kota ini, termasuk berbelanja oleh-oleh.Hehe..

Oh ya, selain kabel listrik nan amburadul, ciri khas lalu lintas di Vietnam (berdasarkan pengalaman saya melintasi beberapa kota) adalah ingar bingar suara klakson. Para pengendara benar-benar tak sabaran. Kekacauan lalu lintas Jakarta kalah deh. Bahkan kita yang biasa emosi jiwa dengan motor-motor yang suka nyalip seenaknya di Jakarta, akan lebih stress lagi karena di sini tak peduli apapun kendaraannya, mereka ingin menjadi yang terdepan. Kecelakaan lalu lintas nampaknya sudah menjadi hal lumrah. Selama di Ho Chi Minh City saja, sudah lebih dari dua kali saya melihat kecelakaan. Yang paling sering sih kecelakaan motor.

Di perjalanan kedua ini, harapannya saya dan Pupu bisa ke beberapa tempat wisata lain di sekitar Ho Chi Minh City. Namun, tentu yang pertama perlu dipikirkan adalah, “dimana kami akan menginap selama di kota ini?” Good question. Hujan turun sangat deras ketika sore itu bus kami berhenti di daerah sekitar Bui Vien, tak jauh dari Ben Thanh Market di Distrik 1 (Kota Ho Chi Minh City dibagi-bagi menjadi beberapa distrik). Meskipun kami sudah mencatat nama hostel tempat kami akan menginap, kami sungguh kesulitan menemukannya. Bui Vien dan sekitarnya dijejali gedung-gedung ruko yang merupakan restoran dan hostel. Akhirnya kami pun terus berjalan sambil beberapa kali berhenti di hostel-hostel menanyakan ketersediaan kamar dan harga per malam.

Pilihan kami jatuh pada sebuah hostel bertarif 10 USD/malam. “Tapi kamar yang tersedia ada di lantai 3,” kata petugas hotel. Saya dan Pupu saling berpandangan. Duh…nggak ada yang lantai 2 aja ya? Lantai paling bawah memang hanya untuk lobi, meja resepsionis, serta dapur dan kamar pemilik hotel. Walaupun agak malas, saya dan Pupu bersedia melihat kamarnya terlebih dahulu. Punggung ini juga rasanya sudah kelelahan dibebani ransel yang mungkin beratnya sampai 10 kg.

Ternyata eh ternyata…lantai 1 itu dihitung mulai dari satu lantai di atas resepsionis. Ini berarti lantai 3 berada di lantai keempat dari bawah. Gosh! Namun demikian, saya dan Pupu akhirnya sepakat menginap disana karena melihat petugas hostel yang sudah sangat ramah dan penuh harap. Lagipula kalau mencari hostel lain, kemungkinan kami akan dapat kamar di lantai atas juga karena semua hostel disana di tidak melebar ke samping melainkan ruko-ruko kecil dengan tiga sampai empat lantai. Meskipun kamar kami tidak terlalu luas, namun bersih dan nyaman serta memiliki kamar mandi dalam. Enaknya lagi, di kamar tersedia fasilitas AC dan TV kabel. Dengan kurs dolar sekitar Rp9.300 saat itu, menginap berdua di kamar 10 USD was really worth it.

Sampai jumpa besok ya! Kami akan ikut tour ke Cu Chi Tunnel. 🙂

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. tutiek says:

    mbak, boleh tau nama hostel dan alamat? dapat breakfast kah?
    klo single untuk 1 org 10 usd jg kah? dan klo dorm share brp org dan tarif/org brp yah?
    trims

    Like

    1. Untuk info lebih lengkap mengenai akomodasi, bisa baca di https://maisyafarhati.wordpress.com/2012/09/23/tips-hostel-atau-couchsurfing/
      Hostel saya waktu itu tidak menyediakan sarapan.

      Like

  2. tutiek says:

    oh iya, harga bis pp-sgn ini berapa yah? di perbatasan nyelipin usd juga kah?
    mbak tau gak klo kebalikannya dr saigon-pp adakah yg bis malam?
    trims

    Like

    1. Berdasarkan pengalaman teman saya, ada bus malam dari Saigon ke Siem Reap. Mungkin ke PP juga ada. Di perbatasan Vietnam dan Kamboja tidak ada pungutan apa2.

      Like

    2. Saherman says:

      ya, nih, pertanyaan saya sama. Kisarannya berapa ongkos antar dua kota beda negara ini ya?

      Like

  3. Aduh itu kabel listriknya luar biasa banget lah. Well, tapi seenggaknya Vietnam udah bersih dan punya moda transportasi yang nyaman (meski belum MRT)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s