[AseanTrip-14] Backpacking Is Not Shopping

[8 Oktober 2010]

Masih di Bangkok. Hari ini saya dan Pupu mau memanfaatkan ‘tiket terusan’ dari Grand Palace untuk mengunjungi Vimanmek Mansion. Nampaknya Vimanmek Mansion ini tidak terlalu populer di kalangan wisatawan, bahkan orang Bangkok pun banyak yang tidak tahu dimana tempatnya. Bermodal tanya sana-sini, kami akhirnya mendapat informasi nomor bus untuk menuju kesana.

Ada pengalaman menarik sewaktu naik bus ke Vimanmek mansion. Biasanya di dalam bus kota Bangkok selalu ada seorang kondektur yang akan menagih ongkos dari para penumpang. Tapi di bus itu tidak ada kondektur. Kami penasaran berapa ongkosnya karena bermaksud menyiapkan uang recehan untuk membayar. Setelah kami amati, saat memberhentikan bus, orang-orang langsung turun begitu saja. Hmm..kapan dan kepada siapa ya bayarnya?

Kami kemudian bertanya kepada salah seorang penumpang. Namun sepertinya dia tidak paham apa yang kami tanyakan. Kami pun bertanya kepada penumpang lainnya. “How much do we have to pay for the bus?” tanya saya. “No no.. no need,” katanya. Hah? Kami bingung. Ini orang beneran ngerti apa yang kami tanyakan nggak ya?

Bus kota ala Bangkok

Sesaat kemudian kami sampai di tempat pemberhentian kami. Dengan pede-nya (padahal deg-degan takut salah juga), kami turun begitu saja tanpa membayar. Dan… bye bye… Bus itu melaju melanjutkan perjalanan. Saya dan Pupu saling memandang penuh makna. “Ehhh..jadi gratisan nihhh?” Lalu kami berdua tertawa.

Kami berjalan menuju Vimanmek Mansion sambil melakukan analisis seputar bus kota di Thailand. Har sebelumnya kami naik bus AC ongkosnya 11 Baht (Rp3.080). Lalu naik bus kipas ongkosnya 7 Baht (Rp1.890). Nah, bus yang kami tumpangi tadi tidak ber-AC dan tidak berkipas, kacanya dibuka begitu saja sehingga kami menikmati AC alam. Jadi, kami membuat hipotesis bahwa bus di Bangkok dibagi menjadi tiga tingkatan kasta. Nah, kasta paling rendah itu adalah bus gratisan dengan AC alam. 😀

Setelah berjalan sekitar lima menit, kami sampai di depan Vimanmek Mansion. Tempatnya lumayan sepi, halamannya luas sehingga perlu berjalan cukup jauh ke area mansion yang dimaksud. Vimanmek Mansion konon adalah satu-satunya bangunan kayu di dunia yang konstruksinya tanpa menggunakan paku sama sekali. Wow… Di depan komplek mansion-nya ada tulisan: The World’s Largest Golden Teakwood Mansion.

Halaman depan Vimanmek Mansion

Sebelum masuk, wisatawan melewati lobi dan harus menitipkan tas dan semua barang bawaan di loker yang disediakan. Layanan loker ini tidak gratis lho… Kita harus memasukkan koin untuk membuka loker tersebut. Satu koin hanya berlaku sekali buka-tutup. Jadi kalau ada barang yang ketinggalan, harus masukkan koin lagi. Capek duehhhh….

Keamanan di tempat ini juga cukup ketat. Pengunjung tidak diperbolehkan membawa telepon genggam maupun kamera ke areal mansion. Mau coba membawa kamera sembunyi-sembunyi? Sia-sia saja. Tempat ini dilengkapi alat deteksi logam seperti yang ada di bandara. Memotret di dalam mansion dilarang keras. Heuuu…padahal dari luar kelihatannya bagus banget dan saya gemes pengen jeprat-jepret. Terpaksa deh kamera diistirahatkan dulu di dalam tas.

Mansion yang terdiri dari tiga lantai ini ternyata adalah tempat tinggal raja Thailand (King Rama V) pada awal tahun 1900-an. Di lantai paling bawah, pengunjung diminta membuka sepatu dan menyimpan di rak yang telah disediakan. Dari sana, seorang pemandu memandu kami untuk naik ke lantai dua dimana tur akan dimulai. Saya dan Pupu jadi satu rombongan dengan dua oma-opa asal Amerika. Sayangnya, pemandu kami ini Bahasa Inggris-nya lumayan amburadul. Kami benar-benar harus mendengarkan secara seksama untuk menginterpretasikan apa yang ia jelaskan.

Saat naik ke lantai tiga, ternyata kami dipandu oleh pemandu yang lain. Akhirnya pemandu ini kata-katanya bisa dipahami. Mansion ini masih dikondisikan seperti rumah tinggal, jadi di dalamnya tersimpan perabotan dari jaman baheula. Bagus banget, semua masih lengkap dan tertata rapi. Dari cerita di pemandu, pada masa itu keluarga raja Thailand sudah sering jalan-jalan ke luar negeri. Ada yang menuntut ilmu atau sekedar kunjungan kenegaraan. Perabotnya banyak yang buatan Eropa dan China. Dan si pemandu terdengar sangat bangga menceritakan bahwa perabot itu buatan luar negeri.

Saya dan Pupu langsung bisik-bisik, “Ih kok malah bangga ya pakai produk luar negeri? Kita sih cinta produk lokal…hihihi…”

Berhubung tidak boleh berfoto di dalam, akhirnya berforo di luar. 😀

Sebenarnya, tur di mansion ini agak mirip dengan tur di Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta, salah satu museum favorit saya. Museum Ullen Sentalu isinya cerita tentang kerajaan Kraton Yogyakarta. Tapi bedanya, di Ullen Sentalu tidak terlalu banyak perabotan, melainkan foto-foto dan lukisan. Namun cerita ala kerajaan ya hampir sama. Kunjungan ke Vimanmek Mansion ini benar-benar nggak rugi. Gratis dan menambah wawasan. Selesai tur, kami baru boleh foto-foto di luar area mansion.

Dari Vimanmek Mansion, kami berniat jalan-jalan ke mal-mal di Bangkok. Tau kaaan…Bangkok itu surganya belanja. Kunjungan ke mal ini sekedar memuaskan rasa ingin tahu, khususnya Pupu yang belum pernah. Berhubung ini adalah backpacking trip, tentu kami harus sangat selektif. Selain ada budget constraint, malas juga kan carrier tambah berat sedangkan masih ada tiga kota yang akan dikunjungi? Tapi, ternyata susah banget yaa…konflik batin juga antara pengen belanja sama nggak mau nambah beban carrier. Hehe…

MBK dan Platinum Fashion Mal adalah dua mal yang kami kunjungi. Di MBK sendiri kebanyakan adalah kaos-kaos dan souvenir khas Bangkok seperti tas, gantungan kunci, lukisan, dll. Harganya sih menurut saya agak mahal kalau dibandingkan beli di pasar-pasar. Di Bangkok sebenarnya ada pasar murah namanya Chatuchak Market. Namun sayangnya pasar itu hanya ada di akhir pekan.

Saya dan Pupu makan siang di MBK. Di lantai paling atas ada foodcourt yang makanannya super lengkap dari berbagai Negara, termasuk masakan halal dari India dan Timur Tengah. Kalau belanja di mal Bangkok itu rasanya bukan sedang di Thailand, tapi di suatu Negara Timur Tengah karena pengunjungnya banyak sekali berwajah Arab dan perempuannya berjilbab panjang. Sepertinya banyak yang ke Bangkok sengaja hanya untuk berbelanja.

Suasana sekitar Platinum Mal. Mirip Jakarta ya?

Kalau menurut saya, pusat perbelanjaan di Jakarta juga banyak kok yang lengkap. Namun nampaknya pemerintah setempat tidak melihat itu sebagai potensi wisata yang layak untuk dikembangkan. Pasar Blok A Tanah Abang misalnya, barang-barangnya bisa dibilang lengkap. Foodcourtnya juga menjual aneka makanan Indonesia dari berbagai daerah. Itu kan sebenarnya bisa dijual juga sebagai wisata belanja sekaligus kuliner yaaa… Kurang promosinya saja.

Keluar dari Platinum, saya membeli sebuah tas kecil kasual dan sepotong baju. Hufff.. Itulah hasil konflik batin selama belanja. Haha… Banyak banget yang mau dibeli tapi apa daya tangan tak sampai.

Ya ampyun..ini Nadine terlalu putih, atau saya memang sebegini gelap? :p

Malamnya, saya janjian bertemu Nadine di Khao San. Nadine adalah teman saya ketika program pertukaran pelajar di Korea 2007 lalu. Ia sebenarnya asli Chiang Mai, hanya saja sekarang bekerja di Bangkok. Jam kerjanya baru selesai pukul 6 sore, jadi ya hanya bisa bertemu di malam hari.

Sampai jumpa besok ya! Besok saya dan Pupu berangkat ke Cambodia. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s