[AseanTrip-12] Phuket dan Backpacker Bingung

[6 Oktober 2010]

Masih di Phuket.

Pagi itu saya dan Pupu bangun tidur dengan harapan hari ini akan lebih cerah dari hari kemarin. Setelah sebelumnya melewati hari yang mendung (dan bahkan hujan), kami belum juga menikmati keistimewaan Phuket. Sayangnya, hari itu pun kami berdua tidak memiliki rencana apa-apa selain city tour. Di pusat kota Phuket terdapat bangunan-bangunan tua dan kami akan berjalan kaki menyusurinya.

Tentunya  di pagi hari kami mencari sesuatu untuk dimakan karena perut sudah mulai keroncongan. Warung makan yang ada di pasar hari itu tutup. Entah mengapa. Akhirnya kami hanya membeli cemilan yang sama denga kemarin lalu berjalan di sekitar hostel. Tak ada makanan yang menggugah selera. Pada saat itulah kami lewat penjual pisang. Dan kami pun membeli satu sisir pisang sebagai menu makan sarapan. Haha..

Setelah mandi dan bersiap, kami menyusuri Phuket old town. Panduan kami adalah buku traveling yang ditulis oleh Claudia Kaunang. Dalam perjalanan itu, kami tak ingin melewatkan On On Hotel, hotel yang tersohor karena menjadi tempat syuting film The Beach-nya Leonardo DiCaprio. Selain itu, kami juga penasaran ingin tahu kabar bule yang waktu itu satu minivan dengan kami. Apa kabar ya dia di On On? Berdasarkan yang saya baca di berbagai sumber internet sih katanya tempatnya spooky dan agak tidak terawat.

Ternyata tampak depannya, On On Hotel was not that bad. Di bagian depan hotel itu ada kafe. Dan benar saja, bule itu masih tinggal di situ, sedang duduk manis di depan laptopnya. Saya dan Pupu kemudian saling memandang seolah bertelepati, “Oh..dia baik-baik saja,” mengingat saat di minivan ia terlihat amat nelangsa duduk di jok paling belakang dengan tumpukan koper dan backpack di belakang dan sampingnya. Mengingat juga badannya tinggi besar, jadi masuk minivan itu rasanya ia harus berusaha keras untuk menekuk badannya. Sebenarnya saat itu saya ingin memotret tampak depan hotel tersebut, tapi kurang sopan rasanya karena beberapa orang sedang duduk-duduk di kafe, dan ada pelayannya juga.

Saya dan Pupu terus berjalan, random saja, walaupun sesekali masih melihat peta. Kami kemudian sampai di kawasan yang di sana berjejer beberapa toko buku. Oh..surga dunia… It’s always tempting walaupun bukan buku baru. Bukunya sangat beragam, kebanyakan novel dan buku traveling. Ada buku berbahasa Jerman, Prancis, dan beberapa bahasa lainnya, walaupun kebanyakan ya Bahasa Inggris. Kalau tidak ingat backpack yang sudah berat sih ingin sekali membeli setidaknya satu atau dua buku. Harganya pun terjangkau. Tapi kami berakhir di sana hanya membaca-baca sekilas lalu meninggalkan surga dunia tersebut.

Kabel listriknya cukup mengganggu 😦

Di sisi lain old town, ada tugu jam yang kelihatannya sudah sangat tua, lalu ada pula bangunan-bangunan unik dengan warna yang eye-catching. Kami susuri terus sampai kami tiba di sebuah temple, entah apa namanya saya lupa. Hehe.. Bangunannya khas Thailand yang dinding dan atapnya  dihiasi ornamen berwarna keemasan.

Hampir tiba waktu makan siang, saya dan Pupu tergoda untuk pergi ke tempat yang kata Claudia sih ada ayam goreng halal yang enak. Tempatnya di dekat Robinson Department Store. Makan kami pun bertanya kepada orang-orang di sana bagaimana cara mencapai Robinson. Kalau dilihat di peta sepertinya tidak terlalu jauh, tetapi saya terlalu malas untuk berjalan kaki karena dari tadi sudah berjalan kaki cukup jauh.

Kami sempat berputar-putar mencari Ibu penjual ayam goreng yang dimaksud. Karena dalam buku kurang jelas dimana posisi tepatnya. Ibu itu berjualan ayam dengan gerobak motor. Di dapur mini itu komplit ada kompor sekaligus gasnya. Hehe.. Yang membuat kami yakin bahwa itulah ayam goreng yang dimaksud Claudia dalam bukunya adalah, ibu itu memakai penutup kepala seperti ciput (walaupun bukan kerudung) dan di depan gerobaknya ada tulisan Arab ‘Bismillahirrahmanirrahim’. Kami tak ragu lagi memesan masing-masing dua porsi sekalian untuk makan malam. 😀

Itu lho..tulisan ‘bismillah’ di kiri atas. 🙂
The legendary friend chicken and sticky rice. Serius ini enyaaak bgt 😀

Ayam goreng itu disajikan dengan sticky rice. Subhanallah… Itu adalah salah satu ayam goreng terenak yang pernah mampir di lidah saya. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Satu porsi sticky rice itu kelihatannya sedikit sehingga sebelumnya saya berinisiatif membeli tiga porsi nasi untuk dua ayam, diikuti oleh Pupu. Ayam goreng per porsi harganya 20 Baht (Rp5.600) dan nasi harganya 5 Baht saja (Rp1.400). Total yang saya keluarkan adalah 55 Baht saja (Rp15.400). Murah bukan?  Namun ternyata satu porsi sticky rice itu sudah mengenyangkan. Iya ya…pasti Ibu itu sudah punya pengalaman dan menakar nasi dengan pas. Hehe..

Hari itu, kami akan terbang ke Bangkok. Jadwal penerbangan kami adalah malam hari, hampir tengah malam malah. Wah kami merasa salah timing nih. DI Phuket malah terlalu lama tapi tempat yang dikunjungi tidak terlalu banyak. Itulah saat-saat saya merasa jadi backpacker nganggur. Haha.. Banyak sekali waktu untuk bermalas-malasan di hostel. Sebenarnya pagi harinya kami sudah check out dari hotel. Tapi kami diperbolehkan menyimpan backpack kami di sana. Dan saat jam 2 siang kami kembali ke hostel, kami masih diperlakukan seperti tamu. Masih boleh tiduran di living room, menggunakan dapur, dan memakai internet. Hehe… sungguh, kami sudah tak tahu lagi mau kemana di Phuket.

Sore hari sekitar jam 4 kami meninggalkan hostel dan BERJALAN KAKI menuju terminal bus (yeah..for the sake of saving money). Memang sih…dalam keadaan normal berjalan kaki ke terminal bukanlah perkara besar. Namun saat itu kami menggendong backpack yang beratnya ampun-ampunan. Baru jalan sepuluh menit saja sudah mandi keringat. Oke, tapi kami pantang mundur dan terus maju.

Kami sudah cek jadwalnya, dari terminal ada shuttle bus jam 5 ke bandara. Ini pilihan yang jauh lebih ekonomis daripada naik taksi dari hostel ke bandara. Bus ke bandara ongkosnya 85 Baht (Rp23.800) per orang sedangkan kalau naik taksi ongkosnya bisa sampai 400 Baht (Rp112.000) sekali jalan (kalau penumpangnya lebih banyak sih patungannya bisa jadi lebih kecil).

Bus Phuket-Bangkok, kelihatannya sih nyaman. Mau coba?

Kami memilih menggunakan pesawat ke Bangkok adalah karena dari Penang ke Phuket kami telah melalui perjalanan darat yang cukup panjang. Kalau naik bus dari Phuket ke Bangkok katanya sih bisa semalaman. Dan di terminal itu kami melihat bus double-decker Phuket-Bangkok yang tampak luarnya bagus dan di dalamnya cukup nyaman. Ya sudahlah…mala mini kami akan menikmati perjalanan dengan pesawat.

Sampai jumpa di Bangkok!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s