[AseanTrip] Prolog

Incheon (Korea), Desember 2007

Suasana di Incheon Airport, 2007

Kami saling melambaikan tangan. Incheon International Airport menjadi saksi perpisahan saya dan kawan-kawan yang sudah hampir satu tahun bersama dalam program pertukaran pelajar di Daejeon University, Daejeon, Korea. Mereka, yang satu program dengan saya, adalah mahasiswa dari berbagai negara di ASEAN (kecuali Myanmar, tidak ada perwakilan dari negara tersebut). Perpisahan yang menghadirkan air mata itu, juga menghadirkan sebuah harapan dalam hati saya, “Suatu hari saya akan mengunjungi negara mereka, sebuah reuni kecil pastilah teramat indah..”

Yogyakarta, awal 2008

Saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Marina K. Silvia tentang backpacking ke Eropa. Wow.. Menarik sekali dan semakin menggerakkan saya bahwa traveling is possible. Saya semakin semangat: kalau ke Eropa saja bisa, apalagi ‘hanya’ untuk berjalan-jalan ke negara tetangga yang masih di Asia Tenggara. Hmm..

Passion untuk traveling sendiri mulai muncul ketika saya masih di Korea. Berada di negara orang benar-benar membuat saya tergila-gila untuk mengeksplor hal baru dan tak menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk jalan-jalan. Ditambah lagi, uang bulanan (beasiswa) kala itu amat lebih dari cukup. Hehe.. Dan di sana pulalah saya semakin menyadari bahwa di Indonesia jauh lebih banyak tempat yang menarik dan indah, bahkan masih sangat alami. Sepulangnya saya ke Indonesia…sedikit demi sedikit saya pun mulai traveling dari satu tempat ke tempat lainnya.

Yogyakarta, awal 2010

Waktu dua tahun rasanya cukup untuk menyimpan keinginan dan rencana saya. Saat itu saya baru mulai menulis skripsi dan membuat target kapan skripsi HARUS selesai, setidaknya diusahakan untuk selesai. Saya memberi waktu untuk diri saya sendiri: Februari-Juli. Juli kalau diusahakan sudah ujian dan Agustus bisa wisuda. Setelah itu: BACKPACKING. Hehehe… Ternyata jalan-jalan menjadi penyemangat yang sangat ampuh lho.

Awalnya saya tak ada ide dengan siapa saya akan backpacking nantinya. Yah kalau memang tak ada teman, solo backpacking pun jadi. Dan ini akan jadi pengalaman pertama backpacking sendirian dalam jangka waktu yang cukup lama. Namun ternyata di akhir April dalam sebuah ngobrol haha-hihi di kantor (saya bekerja semi-volunteer di kampus), salah satu teman saya, Putri, juga berminat untuk jalan-jalan keliling ASEAN. Okeee..bungkus! Jadilah kami berdua mulai menjadi tim backpacking yang solid. Hehe..

Kami pun mulai membuat itinerary. Belum detail sih…sekedar mulai dari negara mana, kota apa saja, lalu setelah itu kemana, berakhir di mana. Setelah cek harga-harga di AirAsia.com yang paling murah adalah memulai dari Jakarta ke Singapura dan pulang dari Ho Chi Minh City ke Jakarta. Kami hanya membeli tiket untuk berangkat dan pulang karena selama perjalanan rencananya akan menggungakan moda transportasi darat saja. Awal Mei, tiket penerbangan sudah di tangan.

Akhir September sampai dengan pertengahan Oktober menjadi waktu pilihan kami untuk melakukan perjalanan. Alasannya sangat akademis…haha.. Karena kami BERHARAP dan menargetkan bahwa pada bulan tersebut kami sudah akan lulus kuliah, dan alhamdulillah target kami tercapai. Kenapa tidak di awal September, karena bersamaan dengan bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Kami jelas-jelas memilih berkumpul dengan keluarga papda momen penting seperti itu.

Pertengahan September 2010

Percaya atau tidak, segala sesuatunya baru fixed hanya beberapa hari sebelum keberangkatan. Kami ngebut berbagi tugas menyusun itinerary di tiap-tiap kota yang akan kami kunjungi di lima negara, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Totalnya, kami mengunjungi sembilan kota di lima negara dalam 20 hari. Perkiraan anggaran untuk perjalanan ini pada awalnya adalah 3,4 juta rupiah (tidak termasuk biaya tiket pesawat). Namun sebelum keberangkatan, kami cek harga sana-sini lagi, dan kami ambil harga tertinggi untuk sekalian berjaga-jaga. Setelah perjalanan ini selesai, saya hitung-hitung lagi pengeluarannya ternyata tidak jauh meleset dari perkiraaan pertama, sekitar 3,4-3,5 juta rupiah (walaupun sebenarnya banyak rugi karena selisih kurs..hiks..).

Untuk akomodasi, ada yang sudah kami booked in advance, ada pula yang rencananya akan kami cari tahu kemudian. Berhubung mau jalan-jalan ala ransel alias backpacking, tentunya biaya untuk akomodasi menjadi hal yang amat krusial. Info mengenai berbagai guest house atau hostel murah di antaranya dapat ditemukan di hostelworld.com dan hostelbookers.com. Pada umumnya, untuk pemesanan kamar di website-website tersebut kita harus melakukan pembayaran uang muka dan dikenakan biaya administrasi (menggunakan kartu kredit). Biaya administasi biasanya sekitar 1 dollar. Namun untuk hostelbookers.com, malah tidak dikenakan biaya administrasi sama sekali. Jadi kita hanya harus membayar uang muka yang jumlahnya sekitar 10% dari biaya/kamar/malam (namun untuk pemesanan online biasanya diharuskan menginap minimal dua malam).

Selain itu, kami juga sudah browsing sebelumnya mengenai berbagai moda transportasi yang tersedia dari satu kota ke kota lainnya termasuk jadwal keberangkatan dan biaya yang dibutuhkan. Dari hasil browsing itu, kami menjadi lebih ada gambaran dalam membuat itinerary dan perkiraan anggaran. Untuk mata uang dollar Singapura dan ringgit Malaysia, kami sudah tukarkan di Indonesia. Sedangkan mata uang di negara yang lainnya akan ditukar kemudian. Jadi sisanya kami hanya menukar dari Rupiah ke US dollar saja. Tentunya, tidak disarankan untuk membawa uang pas-pasan sesuai dengan hitungan perkiraan anggaran yang sudah dibuat. Namanya juga jalan-jalan ke luar negeri, lebih baik membawa uang tambahan untuk jaga-jaga. Kalau yang uang di ATM nya masih tebal dan bisa menarik uang di ATM luar negeri (bertanda Visa misalnya), bisa saja sih tidak membawa uang tunai banyak-banyak. Tapi saya males aja, takutnya nanti ambil uang dari ATM nya nggak seberapa, tapi biaya administrasinya malah mahal. Hehe. Rugi dong..

Info-info lain mengenai tempat yang akan kami tuju, umumnya dapat ditemukan dengan cara googling. Hehe.. Thanks to internet yang kini amat memudahkan setiap orang untuk traveling. Selain itu, tak ada salahnya juga blog walking karena dengan demikian, kita bisa tahu cerita dan pengalaman orang lain yang sebelumnya sudah berkunjung ke tempat yang bersangkutan. Buku dan majalah traveling pun kini sudah tidak asing. Carilah ke toko buku dan pilih buku yang relevan dengan tempat yang ingin dikunjungi. Lonely Planet (LP) juga sangat recommended untuk para backpacker, sayang harganya mahal yaaa..hehe.. (iya lah..ada uang ada barang). Saya sendiri malah baru baca LP di tengah perjalanan. Kebetulan, kebanyakan hostel dan guest house tempat saya menginap memiliki perpustakaan kecil yang menyediakan berbagai buku traveling. Wah senangnyaaa…

Hmm..kiranya itu saja sih persiapan dan kisah di balik perjalanan saya akhir September sampai dengan pertengahan Oktober. That was one of my remarkable journeys so far. Melalui perjalanan itu, sebenarnya saya sedang menghadiahi diri saya sendiri atas kerja keras dan berbagai waktu sulit yang pernah saya lewati semasa kuliah sampai menyelesaikan skripsi, juga kerja keras saya selama setahun lebih bergabung untuk semi-volunteer work di kampus. Selain itu, saya juga ingin menghadiahi diri saya dengan pembelajaran di luar kelas, di luar kampus. Sebuah pembelajaran yang bukan tentang ilmu pasti, bukan hitungan statistik dan ekonometri, bukan tentang grafik-grafik dan teori, melainkan pembelajaran tentang KEHIDUPAN.

Satu lagi, saya bersyukur bahwa biaya perjalanan ini adalah hasil dari tabungan saya sendiri dan tidak menyusahkan orang tua. Hehe… Namun tetap saja saya berhutang pada orang tua saya yang memberikan kepercayaan, dukungan, dan doa untuk setiap langkah saya, termasuk saat melakukan perjalanan ini .

*nantikan tulisan selengkapnya mengenai perjalanan ini ya..  Cari cerita dalam kategori ‘Traveling’ dan tag ‘asean’

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Icha apa kabar?
    masih ingat gak ya, sm saya?
    saya rifqi, ie 2003, equilibrium juga.
    seneng baca tulisanmu dan menikmati seperti aku menikmati tulisan-tulisanmu dulu..
    jd pengen jalan-jalan juga…
    tp, klo sambil ngitung inflasi, kira-kira 3,5 juta itu skrg jd berapa ya? 4,5 juta?

    Like

    1. Aaah Mbak Rifqi..masih inget dong. Hehe.. Terima kasih udah baca ya. Ini aku pindahin tulisan lama kok dari Multiply. Soalnya bentar lagi MP mau tutup lapak buat layanan blog. Sadly.

      Kabarku baik, semoga Mbak Rifqi juga ya. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s