Kisah Persaudaraan dari ‘Selimut Debu’

Setelah 2 minggu di waktu-waktu senggang membaca buku ‘Selimut Debu’ karya Agustinus Wibowo, akhirnya siang ini selesai juga. Mungkin ada yang sudah pernah baca?

Wahhh..selama membaca saya benar-benar terbawa ke debu-debu Afghanistan di musim panas sampai menggigil di perbukitan Afghanistan saat musim dingin. Ada rasa deg-degan, ada penasaran, ada haru, ada jengkel, ada bahagia, semua campur aduk mengikuti perjalanan sang penulis yang luar biasa.

Namun ternyata di bagian akhirlah saya meneteskan air mata. Di bab ‘Tashakor’, dimana sang penulis mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantunya untuk kuat dan bertahan selama perjalanan, terutama orang-orang Afghanistan yang dalam segala keterbatasannya sangat memuliakan tamu. Untuk karpet usang sebagai alas tidur, untuk teh hijau hangat, untuk nasiΒ palao(qabuli), dan lainnya.

Yak rust didi dost, digar ruz didi baradar. Hari pertama kaulihat teman, hari berikutnya yang kaulihat adalah saudara.

Saya merasa bahwa bab akhir ini adalah rangkuman dan sebuah refleksi perjalanan. Refleksi bahwa di dunia ini — di atas perang yang berkecamuk sekalipun — masih ada satu hal bernama kemanusiaan dan kasih sayang, terlepas dari perbedaan suku bangsa, negara, paham, agama, dan sebagianya, yang seringkali mengotak-kotakkan umat manusia dan membuat kita terperangkap dalam berbagai prasangka.

Kisah perjalanan yang sungguh luar biasa!

*bersiap menuju buku selanjutnya: ‘Garis Batas’

Cheers,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s